Sekolah Efektif


SEKOLAH EFEKTIF

Pendahuluan

Salah satu masalah yang sangat serius dalam bidang pendidikan di tanah air kita saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Banyak pihak berpendapat bahwa rendahnya mutu pendidikan merupakan salah satu faktor yang menghambat penyediaan sumber daya manusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi tuntutan pembangunan bangsa di berbagai bidang. Rendahnya mutu pendidikan terkait dengan skenario yang dipakai oleh pemerintah dalam membangun pendidikan, yang selama ini lebih menekankan pada pendekatan input and output.

Pemerintah berkeyakinan bahwa dengan meningkatkan mutu input maka dengan sendirinya akan dapat meningkatkan mutu output. Dengan keyakinan tersebut, kebijakan dan upaya yang ditempuh pemerintah adalah pengadaan sarana dan prasarana pendidikan, pengadaan guru, menatar para guru, dan menyediakan dana operasional pendidikan secara lebih memadai. Kenyataan tersebut memberi gambaran umum bahwa pendekatan input and output secara makro belum menjamin peningkatan mutu sekolah dalam rangka meningkatkan dan meratakan mutu pendidikan. Hal ini tidak saja terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi di negara-negara lain. Hasil penelitian untuk sekolah dasar negeri di Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan bahwa input sekolah mempunyai pengaruh yang kecil terhadap hasil belajar siswa (Scheerens, 1992).

Pendekatan input and output yang bersifat makro tersebut kurang memperhatikan aspek yang bersifat mikro yaitu proses yang terjadi di sekolah. Dengan kata lain, dalam membangun pendidikan, selain memakai pendekatan makro juga perlu memperhatikan pendekatan mikro yaitu dengan memberi fokus secara lebih luas pada institusi sekolah yang berkenaan dengan kondisi keseluruhan sekolah seperti iklim sekolah dan individu-individu yang terlibat di sekolah baik guru, siswa, dan kepala sekolah serta peranannya masing-masing dan hubungan yang terjadi satu sama lain. Dalam kaitan ini Brookover (1979) mengungkapkan bahwa input sekolah memang penting tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana mendayagunakan input tersebut yang terkait dengan individu-individu di sekolah.

Jenis studi yang banyak mengkaji keberadaan sekolah pada tingkat mikro adalah studi mengenai keefektifan sekolah yang melihat faktor input, proses, dan output atau outcome sekolah secara keseluruhan serta bagaimana hubungan yang terjadi antara input dan proses dengan output atau outcome sekolah. Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa studi keefektifan sekolah telah banyak membantu dalam memecahkan masalah pendidikan dalam kaitan dengan peningkatan mutu pendidikan. Pemahaman terhadap institusi sekolah secara menyeluruh sangat penting karena basis utama pendidikan adalah sekolah.

Pentingnya pemahaman terhadap keefektifan sekolah tidak saja dalam kaitan dengan meningkatkan mutu pendidikan tetapi juga sejalan dengan kebijakan nasional yaitu desentralisasi pendidikan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Berkenaan dengan desentralisasi pendidikan tersebut, di bidang pendidikan dasar, Depdiknas telah menyiapkan konsep otonomi sekolah yaitu manajemen berbasis sekolah. Dengan konsep ini, pemerintah tidak hanya berharap pada meningkatnya mutu pendidikan melainkan juga tercapainya pemerataan, relevansi, dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan.

Dengan adanya otonomi sekolah, diharapkan sekolah dapat lebih leluasa mengelola sumber daya pendidikan dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta sekolah dapat lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat dan mampu melibatkan masyarakat dalam membantu dan mengontrol pengelolaan pendidikan pada tingkat sekolah.

Pembahasan

Sekolah merupakan suatu institusi yang didalamnya terdapat komponen guru, siswa, dan staf administrasi yang masing-masing mempunyai tugas tertentu dalam melancarkan program. Sebagai institusi pendidikan formal, sekolah dituntut menghasilkan lulusan yang mempunyai kemampuan akademis tertentu, keterampilan, sikap dan mental, serta kepribadian lainnya sehingga mereka dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau bekerja pada lapangan pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan keterampilannya.

Keberhasilan sekolah merupakan ukuran bersifat mikro yang didasarkan pada tujuan dan sasaran pendidikan pada tingkat sekolah sejalan dengan tujuan pendidikan nasional serta sejauhmana tujuan itu dapat dicapai pada periode tertentu sesuai dengan lamanya pendidikan yang berlangsung di sekolah.

Berdasarkan sudut pandang keberhasilan sekolah tersebut, kemudian dikenal sekolah efektif dan efisien yang mengacu pada sejauh mana sekolah dapat mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yag telah ditetapkan. Dengan kata lain, sekolah disebut efektif jika sekolah tersebut dapat mencapai apa yang telah direncanakan. Pengertian umum sekolah efektif juga berkaitan dengan perumusan apa yang harus dikerjakan dengan apa yang telah dicapai. Sehingga suatu sekolah akan disebut efektif jika terdapat hubungan yang kuat antara apa yang telah dirumuskan untuk dikerjakan dengan hasil-hasil yang dicapai oleh sekolah, sebaliknya sekolah dikatakan tidak efektif bila hubungan tersebut rendah (Getzel, 1969).

Ciri- Ciri Sekolah Efektif

Deskripsi berbagai teori mengenai sekolah efektif secara lebih terinci adalah sebagai berikut.

David A. Squires, et.al. (1983) berhasil merumuskan ciri-ciri sekolah efektif yaitu: (1) adanya standar disiplin yang berlaku bagi kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan di sekolah; (2) memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan di kelas; (3) mempunyai standar prestasi sekolah yang sangat tinggi; (4) siswa diharapkan mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan; (5) siswa diharapkan lulus dengan menguasai pengetahuan akademik; (6) adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi; (7) siswa berpendapat kerja keras lebih penting dari pada faktor keberuntungan dalam meraih prestasi; (8) para siswa diharapkan mempunyai tanggungjawab yang diakui secara umum; dan (9) kepala sekolah mempunyai program inservice, pengawasan, supervisi, serta menyediakan waktu untuk membuat rencana bersama-sama dengan para guru dan memungkinkan adanya umpan balik demi keberhasilan prestasi akademiknya.

Sedangkan Jaap Scheerens (1992) menyatakan bahwa sekolah yang efektif mempunyai lima ciri penting yaitu; (1) kepemimpinan yang kuat; (2) penekanan pada pencapaian kemampuan dasar; (3) adanya lingkungan yang nyaman; (4) harapan yang tinggi pada prestasi siswa; (5) dan penilaian secara rutin mengenai program yang dibuat siswa.

Sementara Edmons (1979) menyebutkan bahwa ada lima karakteristik sekolah efektif yaitu : (1) kepemimpinan dan perhatian kepala sekolah terhadap kualitas pengajaran, (2) pemahaman yang mendalam terhadap pengajaran, (3) iklim yang nyaman dan tertib bagi berlangsungnya pengajaran dan pembelajaran, (4) harapan bahwa semua siswa minimal akan menguasai ilmu pengetahuan tertentu, dan (5) penilaian siswa yang didasarkan pada hasil pengukuran hasil belajar siswa.

Pengetahuan lain mengenai sekolah efektif adalah sebagai berikut : (1) mampu mendemontrasikan kebolehannya mengenai seperangkat kriteria ; (2) menetapkan sasaran yang jelas dan upaya untuk mencapainya; (3) adanya kepemimpinan yang kuat ; (4) adanya hubungan yang baik antara sekolah dengan orangtua siswa; dan (5) pengembangan staf dan iklim sekolah yang kondusif untuk belajar (Townsend, 1994).

Metode lain yang dipakai untuk mengidentifikasikan sekolah yang efektif adalah : penggunaan standar tes, pendekatan reputasi, dan penggunaan evaluasi sekolah serta pengembangan berbagai aktifitas.

Tinjauan yang lebih komprehensif mengenai sekolah efektif dilakukan oleh Edward Heneveld (1992) yang mengungkapkan serangkaian indikator berupa 16 faktor yang berkenaan dengan sekolah efektif yaitu : (1) dukungan orangtua siswa dan lingkungan, (2) dukungan yang efektif dari sistem pendidikan, (3) dukungan materi yang cukup, (4) kepemimpinan yang efektif, (5) pengajaran yang baik, (6) fleksibilitas dan otonomi, (7) waktu yang cukup di sekolah, (8) harapan yang tinggi dari siswa, (9) sikap yang positif dari para guru, (10) peraturan dan disiplin, (11) kurikulum yang terorganisir, (12) adanya penghargaan dan insentif, (13) waktu pembelajaran yang cukup, (14) variasi strategi pengajaran, (15) frekuensi pekerjaan rumah, dan (16) adanya penilaian dan umpan balik sesering mungkin.

Bertitik tolak pada dari berbagai teori tersebut, terungkap bahwa pengertian sekolah efektif memandang sekolah sebagai suatu sistem yang mencakup banyak aspek baik input, proses, output maupun outcome serta tatanan yang ada dalam sekolah tersebut. Dimana berbagai aspek yang ada dapat memberikan dukungan satu sama lain untuk mencapai visi, misi dan tujuan, dari sekolah yang dikelola secara efektif dan efisien.

Aspek Kajian Sekolah Efektif

Dari ciri-ciri yang terkandung pada sekolah efektif, maka aspek kajian makalah adalah Input sekolah, Kepuasan kerja guru, Partisipasi orang tua, Prestasi belajar dan Konsep diri siswa.

Input sekolah adalah keseluruhan sumber daya sekolah yang mencakup tiga aspek yaitu karakteristik sekolah, karakteristik guru, dan karakteristik siswa. Karakteristik sekolah terdiri dari 6 indikator yaitu : (1) luas gedung, (2) luas laboratorium, (3) luas perpustakaan, (4) banyaknya ruang kelas, (5) banyaknya siswa, dan (6) banyaknya dana yang dialokasikan di sekolah. Karakteristik guru terdiri dari 4 indikator yaitu : (1) umur, (2) pendidikan, (3) pengalaman mengajar, dan (4) gaji guru. Sedangkan karakteristik siswa terdiri dari 4 indikator yaitu : (1) jumlah jam belajar siswa di rumah, (2) jumlah jam les mata pelajaran, (3) pendidikan orangtua siswa, dan (4) besarnya penghasilan orangtua siswa.

Kepuasan kerja guru adalah keseluruhan perasaan guru berkenaan dengan berbagai aspek pekerjaannya yang meliputi lima aspek yaitu : (1) sumber daya pendidikan, (2) proses belajar mengajar, (3) prestasi sekolah, (4) penghasilan dan penghargaan, dan (5) kebebasan melakukan aktifitas. Iklim sekolah adalah keseluruhan harapan, pendapat, dan pengalaman yang dirasakan oleh guru berkenaan dengan situasi kerjanya yang meliputi lima aspek yaitu: (1) kondisi fisik dan fasilitas sekolah, (2) cara kerja dan gaya kepemimpinan kepala sekolah, (3) harapan pada prestasi sekolah, (4) hubungan kerja, (5) ketertiban/ disiplin sekolah.

Partisipasi orangtua siswa pada penelitian ini terdiri dari 9 indikator yaitu partisipasi dalam : (1) ikut menentukan kebijakan dan program sekolah, (2) ikut mengawasi pelaksanaan kebijakan dan program sekolah, (3) pertemuan rutin di sekolah, (4) kegiatan ekstrakurikuler, (5) mengawasi mutu sekolah, (6) pertemuan BP3, (7) membiayai pendidikan, (8) mengembangkan iklim sekolah, dan (9) partisipasi dalam pengembangan sarana dan prasarana sekolah.

Hasil belajar siswa merupakan pengetahuan yang dicapai siswa pada sejumlah mata pelajaran di sekolah. Sedangkan konsep diri siswa adalah pandangan dan penilaian siswa mengenai keseluruhan dirinya yang meliputi dua aspek yaitu : aspek internal diri yang terdiri dari identitas diri, perilaku diri, dan penilaian diri; dan aspek eksternal diri yang terdiri dari fisik diri, etika moral diri, personal diri, famili diri, dan sosial diri.

Perbandingan Antara Sekolah Efektif dan Tidak Efektif

Berdasarkan penelitian Wayan Koster sekolah efektif dan sekolah tidak efektif dapat dilihat dari indikator berikut. Luas gedung, luas laboratorium, dan luas perpustakaan sekolah efektif ternyata lebih lebar daripada sekolah tidak efektif. Hal ini terlihat dari rata-rata luas gedung sekolah efektif yang mencapai 3.564 m2 dan luas gedung sekolah tidak efektif hanya 1.543 m2, luas laboratorium sekolah efektif mencapai 115,6 m2 dan sekolah tidak efektif hanya 75,3 m2 , luas perpustakaan sekolah efektif mencapai 112,3 m2 dan sekolah tidak efektif hanya 67,1 m2 (tabel 1).

Tabel 1
Data Input Sekolah Efektif dan Sekolah Tidak Efektif

Aspek / Indikator

Sekolah Efektif

Sekolah Tidak Efektif

1. Karakteristik Sekolah

1.1 Luas Gedung

3.564

1.543

1.2 Luas Laboratorium

115,6

75,3

1.3 Luas Perpustakaan

112,3

67,1

1.4 Banyaknya Kelas

23

12

1.5 Banyaknya Siswa

1.235

450

1.6 Banyaknya Dana

985.000.000

345.000.000

Rasio Siswa dan Kelas

54,0

38,0

Rasio Dana dan Siswa

797,571

766,667

2. Karakteristik Guru

2.1 Umur guru

48

42

2.2 Pendidikan terakhir

16,4

16,1

2.3 Pengalaman mengajar

18,3

12,1

2.4 Gaji guru per tahun

7.574.435

6.251.345

3. Karakteristik Siswa

3.1 Jumlah jam belajar siswa

di rumah per minggu

17,5

14,3

3.2 Jumlah jam les per minggu

9,5

3,1

3.3 Pendidikan terakhir orangtua

Siswa

16,1

14,5

3.4 Penghasilan orangtua siswa

per bulan

2.750.345

985.435

Catatan : Semua angka dalam tabel adalah skor rata-rata.

Banyak ruangan kelas belajar di sekolah efektif mencapai 23 ruangan yang hampir dua kali lipat daripada banyak ruangan kelas di sekolah tidak efektif yang hanya 12 ruangan. Jumlah dana operasional pertahun di sekolah efektif ternyata jauh lebih banyak (hampir mencapai tiga kali lipat) daripada sekolah tidak efektif yaitu Rp. 985.000.000 berbanding Rp. 345.000.000.

Jumlah siswa per kelas di sekolah efektif ternyata juga lebih banyak daripada di sekolah tidak efektif yaitu 54 orang sisiwa berbanding 38 orang siswa. Demikian halnya besar dana per siswa (unit cost) di sekolah efektif ternyata lebih tinggi daripada di sekolah tidak efektif yaitu Rp. 797.571 berbanding Rp. 766.667 per tahun. Data ini menunjukkan bahwa ditinjau dari segi keberadaan sarana prasarana ternyata di sekolah efektif jauh lebih memadai daripada di sekolah tidak efektif.

Ditinjau dari segi karakteristik guru ternyata ada perbedaan yang cukup menonjol antara sekolah efektif dengan sekolah tidak efektif. Hal ini terlihat dari umur guru di sekolah efektif lebih tua daripada sekolah tidak efektif yaitu 48 tahun berbanding 42 tahun; pengalaman mengajar guru di sekolah efektif lebih lama daripada sekolah tidak efektif yaitu 18,3 tahun berbanding 12,1 tahun. Sejalan dengan pengalaman tersebut besar gaji guru pertahun di sekolah efektif lebih tinggi daripada di sekolah tidak efektif yaitu Rp. 7.574.435 ( = Rp. 631.000 per bulan) berbanding Rp. 6.251.345 (= Rp. 521.000 per bulan). Tetapi dari segi pendidikan terakhir guru ternyata sama saja yaitu sarjana atau setingkat sarjana baik untuk sekolah efektif maupun di sekolah tidak efektif. Dengan demikian, bila ditinjau dari segi pengalaman dan umur guru ternyata kualifikasi guru di sekolah efektif lebih baik daripada di sekolah tidak efektif, sebab dengan umur dan pengalaman mengajar yang lebih tinggi berarti kemampuan guru dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar menjadi lebih baik.

Karakteristik siswa di sekolah efektif ternyata lebih baik daripada di sekolah tidak efektif. Hal ini terlihat dari jumlah jam belajar siswa di rumah per minggu di sekolah efektif lebih banyak daripada di sekolah tidak efektif yaitu 17,5 jam berbanding 14,3 jam per minggu, jumlah jam les tambahan 5 jam berbanding 3,1 jam per minggu; rata-rata pendidikan orangtua siswa di sekolah efektif adalah sarjana sedangkan di sekolah tidak efektif adalah sarjana muda; dan penghasilan orangtua siswa di sekolah efektif jauh lebih tinggi daripada di sekolah tidak efektif yaitu Rp. 2.750.345 berbanding Rp. 985.435 per bulan. Data ini memberikan gambaran umum bahwa ditinjau dari segi akses untuk memperoleh pengetahuan ternyata para siswa di sekolah efektif jauh lebih luas dariapada di sekolah tidak efektif.

Ditinjau dari data NEM sekolah, rata-rata skor konsep diri siswa, kepuasan kerja guru, partisipasi orangtua siswa, dan iklim sekolah ternyata secara umum kualitasnya lebih baik di sekolah efektif daripada di sekolah tidak efektif. Hal ini terlihat dari rata-rata NEM Sekolah efektif yang jauh lebih tinggi daripada di sekolah tidak efektif yaitu 6,8 berbanding 4,5 ; dan konsep diri siswa di sekolah efektif jauh lebih positif daripada di sekolah tidak efektif dengan rata-rata skor 150,5 berbanding 120,75 (tabel 2).

Tabel 2
Data Variabel Sekolah Efektif dan Sekolah Tidak Efektif

Variabel

Sekolah Efektif

Sekolah Tidak Efektif

Skor

Kategori

Skor

Kategori

  1. NEM Sekolah

6,8

tinggi

4,5

rendah

  • Konsep diri siswa

150 (125)

positif

120,75

agak positif

  • Kepuasan kerja guru

110,36 (100)

puas

98,64

kurang puas

  • Partisipasi orangtua siswa

90,75 (75)

tinggi

76,54

agak tinggi

  • Iklim sekolah

120,42 (100)

baik

95,37

kurangbaik

Catatan : 1) Skor dalam tabel adalah skor rata-rata, 2) Skor dalam kurung adalah nilai tengah teoritis

Data pada tabel 2 juga menunjukkan bahwa rata-rata skor kepuasan kerja guru di sekolah efektif lebih tinggi daripada di sekolah tidak efektif yaitu 110,36 (kategori puas) berbanding 98,64 (kategori kurang puas). Ini berarti bahwa tingkat kebutuhan, keinginan, dan harapan guru dari berbagai aspek pekerjaan guru jauh lebih terpenuhi di sekolah efektif daripada di sekolah tidak efektif.

Demikian halnya tingkat partisipasi orangtua siswa di sekolah efektif lebih tinggi daripada di sekolah tidak efektif yaitu 90,75 (kategori tinggi) berbanding 76,54 (kategori agak tinggi). Ditinjau dari iklim sekolah, ternyata di sekolah efektif jauh lebih baik daripada di sekolah tidak efektif yaitu 120,42 (kategori baik) berbanding 95,37 (kategori kurang baik). Dengan demikian secara umum terlihat bahwa kondisi dan suasana penyelenggaraan pendidikan di sekolah efektif jauh lebih baik daripada di sekolah tidak efektif.

Dari Penelitian Wayan Koster ini memberi arti bahwa baik sekolah efektif maupun sekolah tidak efektif ternyata belum menjadi wahana yang memadai untuk membentuk konsep diri siswa sebagai bagian dari pembentukan kepribadian, perilaku, dan sikap siswa. Dengan kata lain, di sekolah efektif maupun di sekolah tidak efektif, transformasi nilai-nilai belum dapat berlangsung dengan baik.

Temuan ini sangat menarik karena sekolah sesungguhnya diharapkan menjadi salah satu wahana untuk menanamkan nilai-nilai kepada siswa baik melalui substansi mata pelajaran maupun melalui teladan para guru. Hal ini memberi gambaran umum bahwa sekolah baru mampu memberi pengetahuan yang bersifat kognitif tetapi belum mampu membangun kemampuan siswa yang bersifat afektif.

Dengan demikian, nampaknya penyelenggaraan pendidikan di sekolah lebih berorientasi pada upaya-upaya pencapaian hasil belajar kognitif siswa dengan mengabaikan pengembangan kepribadian, sikap, dan perilaku siswa. Ini dapat dipahami dari orientasi kebijakan dan praktik penyelenggaraan pendidikan yang memang terlalu menekankan pada kemampuan kognitif siswa tanpa diimbangi dengan kemampuan afektif siswa seperti pada kriteria seleksi penerimaan siswa baru, proses belajar menganjar maupun sistem evaluasi keberhasilan sekolah.

Keberhasilan sekolah di Indonesia saat ini, semata-mata diukur berdasarkan perolehan NEM tanpa memperhatikan bagaimana keberhasilan sekolah dalam membina perilaku dan kepribadian siswa di sekolah tersebut. Padahal, tingkat kenakalan remaja seperti perkelahian antar pelajar, keterlibatan jual beli dan pemakai narkoba, serta tindakan-tindakan asosial lainnya cukup tinggi. Masyarakat dan orangtua siswa sesungguhnya sangat mengharapkan agar sekolah menjadi tumpuan dalam membangun etika, moral, dan keadaban siswa sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa.

KESIMPULAN

Dalam membangun pendidikan dan mengelola sekolah secara efektif dan efisien selain memakai pendekatan makro juga perlu memperhatikan pendekatan mikro yaitu dengan memberi fokus secara lebih luas pada institusi sekolah yang berkenaan dengan kondisi keseluruhan sekolah seperti iklim sekolah dan individu-individu yang terlibat di sekolah baik guru, siswa, dan kepala sekolah serta peranannya masing-masing dan hubungan yang terjadi satu sama lain. Dalam kaitan ini bahwa input sekolah memang penting tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana mendayagunakan input tersebut yang terkait dengan individu-individu di sekolah maupun dengan individu-individu di luar sekolah seperti komite sekolah, orang tua siswa dan masyarakat yang berada disekitarnya.

Pentingnya pemahaman terhadap keefektifan sekolah tidak saja dalam kaitan dengan meningkatkan mutu pendidikan tetapi juga sejalan dengan kebijakan nasional yaitu desentralisasi pendidikan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah yang sekaligus terkait dengan adanya otonomi sekolah. Diharapkan sekolah dapat lebih leluasa mengelola sumber daya pendidikan dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta sekolah dapat lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat dan mampu melibatkan masyarakat dalam membantu dan mengontrol pengelolaan pendidikan pada tingkat sekolah.

Keberhasilan sekolah dalam melaksanakan program-progamnya perlu didukung oleh semua pihak baik kepala sekolah, guru, penjaga sekolah, komite sekolah, dan masyarakat. Dengan demikian iklim sekolah akan benar-benar kondusif bagi terciptanya pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan serta terjalinnya hubungan yang harmonis antara sekolah dan masyarakat.

Apabila pilar-pilar pendidikan: sekolah, orang tua, dan masyarakat sudah benar-benar saling mendukung program-progam sekolah, maka tujuan yang diinginkan sekolah akan tercapai. Oleh karena itu penciptaan iklim sekolah yang kondusif tidak semata-mata dari aspek fisik, melainkan juga aspek psikologis dan sosial. Bahkan kalau boleh ditegaskan aspek-aspek nonfisik justru memegang peran yang sangat urgen pencapaian tujuan pendidikan sekolah.

SARAN

Berdasarkan simpulan tersebut, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dengan pengelolaan sekolah secara efektif dan dan efisien serta sejalan dengan pelaksanaan desentralisasi pendidikan, para penyelenggara pendidikan baik di pusat, di daerah, maupun di sekolah perlu memperhatikan berbagai aspek yang berkenaan dengan input sekolah, kepuasan kerja guru, partisipasi orang tua siswa, dan iklim sekolah.

Orientasi pengembangan kebijakan pendidikan harus diubah yaitu tidak saja mencakup peningkatan mutu, pemerataan, relevansi, dan efisiensi pendidikan tetapi juga perlu diimbangi dengan orientasi penanaman nilai kepada para siswa guna membentuk kepribadian, sikap, dan perilaku siswa, sehingga para siswa tidak saja mempunyai pengetahuan kognitif berupa keahlian dan kepandaian yang memadai tetapi juga mempunyai budaya dan integritas moral yang baik.

Bahan Kajian

Abbas Ghozali, Tinjauan Literatur : Effective School Research, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 021. Tahun ke-5, Januari 2000, Balitbang Depdiknas.

Juanda Kasim 2005, Penerapan KBK di SD Hanya Menambah Beban Kerja Guru? Suatu Kajian “Isu-isu Baru Dalam Paedagogis”, UNJ, 2005

Juanda Kasim 2005, ContextualTeaching and Learning (CTL), Sebagai Salah Satu Alternatif Untuk Dunia Pendidikan Indonesia, UNJ, 2005

Wayan Koster 2001, Analisis Komparatif Antara Sekolah Efektif dengan Sekolah Tidak Efektif, http://www.depdiknas.go.id/jurnal/12.htm

About these ads

2 Tanggapan

  1. sip2,.mksihh

    Suka

  2. TERIMAKASIH BUAT PEMBAHASAN INI..SANGAT MEMBANTU SAYA..

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 715 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: