Gaya Kepemimpinan


GAYA KEPEMIMPINAN

Lagi Pelatihan TIK 30-31 Okt 2012Kepemimpinan menurut George dan Jones didefinisikan sebagai ” The exercise of influence by one member of a group or organizations over other members to help the group or organization achieve its goals.” Kepemimpinan terkait dengan pemberian pengaruh yang dilakukan oleh seseorang atau salah satu anggota kelompok atau organisasi atas anggota lain untuk membantu kelompok atau organisasi mencapai tujuannya. Kepemimpinan terkait dengan pemberian pengaruh dalam mewujudkan tujuan organisasi. Tanpa adanya pengaruh dari seorang pemimpin kepada orang-orang yang dipimpinnya, maka tujuan organisasi tidak akan terwujudkan. Pemimpin memiliki tugas untuk mempengaruhi dan menggerakkan setiap perilaku orang yang dipimpinnya untuk bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas pekerjaan yang mengacu pada pencapaian tujuan organisasi.

Menurun Bennis yang dikutip Luthans menyatakan “….effective leadership cannot exist without the full inclusion, initiatives, and the cooperation of employees”.[1] Kepemimpinan yang efektif tidak dapat tercapai tanpa inklusi penuh, inisiatif, dan kerjasama dengan bawahan. Seseorang tidak akan dapat menjadi pemimpin yang berhasil apabila tidak memiliki pengikut. Terry menyatakan bahwa “Leadership is the relationship in which one person, or the leader, influences others to work together willingly on related tasks to attain that which the leader desires“.[2] Kepemimpinan diartikan sebagai hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang-orang lain untuk bekerjasama secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai yang diinginkan pemimpin.

Robbins dan Coulter menyatakan bahwa “…a process of leading a group and influencing that group to achieve its goal.”[3] Kepemimpinan diartikan sebagai suatu proses memimpin kelompok dan mempengaruhinya untuk mencapai tujuan. Sedangkan Luthans menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan individu untuk mengarahkan bawahannya ke tujuan yang sebenarnya dan memberi wewenang kepada mereka untuk mengambil tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.[4]

Mangkuprawira menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan unsur yang fundamental dalam menghadapi gaya dan perilaku seseorang. Hal ini sebagai potensi untuk dapat membuat orang lain atau yang dipimpin mengikuti apa yang dihendaki pemimpinnya menjadi suatu kenyataan.[5] Kemampuan pemimpin dalam mempengaruhi orang yang dipimpin menjadi unsur yang fundamental dalam mewujudkan kepemimpinan yang efektif. Harapan pemimpin akan menjadi kenyataan apabila dirinya mampu mempengaruhi dan menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya melakukan apa yang dikehendaki sehingga harapan tersebut terwujudkan.

Greenberg dan Baron menyatakan bahwa kepemimpinan adalah “The process whereby one individual influences other group members toward the attainment of defined group or organizational goals.[6] Pernyataan ini memiliki makna bahwa kepemimpinan sebagai proses pengaruh yang diberikan satu individu anggota kelompok kepada anggota kelompok lain untuk mencapai tujuan organisasi.

Gabriel menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu proses mempengaruhi dan mengarahkan aktivitas anggota-anggota dalam hubungan pekerjaan dalam organisasi.[7] Dubin yang dikutip Sedarmayanti menyatakan bahwa ”Leader is the exercecies of outhority and the making of decissions. (Kepemimpinan adalah aktivitas pemegang kewenangan dan pengambil keputusan)”.[8] Kedua pernyataan tersebut memberikan makna bahwa pemimpin sebagai pemegang otoritas memegang peranan penting dalam keberhasilan organisasi. Pemimpin harus dapat mengarahkan bawahannya pada aktivitas kerja yang mengacu pada pencapaian tujuan organisasi. Tanpa usaha mempengaruhi dan mengarahkan serta menggerakkan maka tujuan yang hendak dicapai tidak akan terwujudkan secara optimal.

Northouse yang dikutip Kreitner dan Kinicki menyatakan bahwa:

There are four commonalities among the many definitions of leadership: (1) leadership is a process between a leader and followers, (2) leadership involves social influence, (3) leadership occurs at multiple levels in an organization (at the individual levels, for example, leadership involves mentoring, coaching, inspiring, and motivating; leaders also build teams, generate cohesion, and resolve conflicts at the group level; finally, leaders build culture and generate change at the organizational level), (4) leadership focuses on goal accomplishment.[9]

Berdasarkan pernyataan di atas bahwa terdapat empat definisi kepemimpinan yang memiliki kesamaan, yaitu: Pertama, kepemimpinan diartikan sebagai suatu proses antara pemimpin dan pengikut. Kepemimpinan melibatkan unsur adanya yang memimpin dan adanya yang dipimpin. Di dalam suatu kelompok atau organisasi agar dapat berlangsung dan tercapainya tujuan pembentukannya maka dibutuhkan adanya seorang pemimpin dan juga orang-orang yang dipimpin. Tanpa adanya pemimpin maka arah perilaku orang-orang dalam organisasi tidak akan dapat mengacu pada pencapaian tujuan. Demikian juga tanpa adanya pengikut maka seseorang dalam organisasi tidak akan dapat melaksanakan tugas pekerjaannya hanya seorang diri.

Kedua, kepemimpinan melibatkan pengaruh sosial. Artinya kepemimpinan sebagai suatu proses untuk mempengaruhi para pengikut atau orang-orang dalam organisasi untuk melakukan yang diharapkan pemimpin dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Tanpa adanya pengaruh sosial tersebut, maka pemimpin tidak dapat menggerakkan orang yang dipimpinnya untuk bergerak, melakukan usaha sesuai tugasnya masing-masing untuk mencapai tujuan organisasi.

Ketiga, kepemimpinan terjadi di berbagai tingkat dalam sebuah organisasi baik pada tingkat individu. Misalnya, kepemimpinan melibatkan bimbingan, pelatihan, inspirasi, dan motivasi, pemimpin juga membangun tim, menciptakan kesatuan, dan menyelesaikan konflik pada tingkat grup, dan pada akhirnya para pemimpin membangun budaya serta menghasilkan perubahan pada tingkat organisasi.

Keempat, kepemimpinan berfokus pada pencapaian tujuan. Organisasi atau lembaga dibentuk dan didirikan tentunya memiliki tujuan yang hendak dicapai. Kepemimpinan inilah yang akan mengarahkan setiap perilaku anggota yang ada di dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Segala upaya yang dilakukan di dalam kepemimpinan bertujuan untuk mencapai atau mewujudkan tujuan organisasi. Tujuan organisasi tercapai sebagai ukuran dari keefektivan kepemimpinan. Sebaliknya kegagalan pencapaian tujuan menunjukkan tidak efektifnya kepemimpinan yang berlangsung.

Berdasarkan empat kesamaan pengertian yang diungkapkan Northouse, Kreitner dan Kinicki memberikan definisi kepemimpinan sebagai “a process whereby an individual influences a group of individuals to achieve common goal.”[10] Definisi ini memiliki arti bahwa kepemimpinan merupakan suatu proses di mana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan terkait pengaruh yang diberikan pemimpin kepada orang yang dipimpinnya. Keberhasilan seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya terletak pada kemampuannya mempengaruhi semua bawahan untuk bekerjasama mewujudkan tujuan organisasi.

Gibson et.al, menyatakan bahwa”An attempt to use influence to motivate individuals to accomplish some goal[11] Kepemimpinan diartikan sebagai upaya pemimpin menggunakan pengaruhnya dalam memotivasi individu untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan Wofford dalam D’Souza menyatakan bahwa pemimpin tidak hanya berusaha untuk menarik pengikut yang enggan, tetapi sebaliknya membangkitkan semangat dengan antusiasme, mengilhami dengan pengabdian yang rendah hati, mengajak berpikir dengan berbagi dan menghormati orang lain serta memberdayakan orang lain dengan keyakinan yang teguh.[12]

Suwarto menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu upaya dalam mempengaruhi bukan paksaan untuk memotivasi orang-orang melalui komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu.[13] Upaya mempengaruhi bukan dilakukan melalui paksaan melainkan dengan mengkomunikasikan tujuan yang hendak dicapai dan memberikan dorongan agar orang-orang yang dipimpin melakukan apa yang diharapkan dalam pencapaian tujuan organisasi. Di dalam kepemimpinan faktor motivasi dan komunikasi berperan penting agar mampu menggerakkan semua orang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Keberhasilan dalam kepemimpinan terletak pada kemampuan atau kompetensi pemimpin dalam mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya.

Menurut Rauch dan Behling dalam Yukl bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir untuk mencapai tujuan.[14] Sedangkan Yukl menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi orang lain untuk memahami dan menyetujui apa yang perlu dilakukan, bagaimana tugas yang diberikan dilakukan secara efektif, serta proses untuk memfasilitasi upaya untuk mencapai tujuan bersama.[15] Proses mempengaruhi tidak hanya terkait dnegan pengkomunikasian tugas yang harus dilakukan, melainkan juga melibatkan dorongan dan memberikan fasilitas terkait dengan tugas pekerjaan dalam mewujudkan tujuan. Pemberian motivasi perlu dilakukan agar para bawahan terdorong, semangat dan bergairah dalam melaksanakan tugas pekerjaan sehingga berusaha melakukannya dengan hasil yang sesuai atau melebihi harapan. Tersediannya fasilitas yang memadai membuat pekerjaan tidak menjadi terhambat, sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara efektif.

Menurut Rivai bahwa gaya kepemimpinan merupakan sekumpulan ciri yang digunakan pemimpin baik yang tampak maupun tidak tampak untuk mempengaruhi bawahannya agar tujuan organisasi tercapai. Dalam definisi lain, kepemimpinan diartikan sebagai pola perilaku dan strategi yang sering diterapkan oleh pemimpin kepada bawahannya.[16] Dengan demikian, gaya kepemimpinan tercermin dalam setiap perilaku pimpinan ketika berinteraksi, memberikan informasi dan instruksi kepada bawahannya. Perilaku dan sikap yang ditampilkan mencerminkan gaya kepemimpinannya.

Menurut Fiedler’s Contingency Model bahwa gaya kepemimpinan setiap individu hanya efektif dalam situasi tertentu. Fiedler menyatakan bahwa daripada mengajar orang untuk mengubah gaya kepemimpinannya, lebih baik dalam pelatihan kepemimpinan harus berkonsentrasi pada membantu memahami gaya kepemimpinannya sendiri dan belajar bagaimana manipulatif situasi sehingga keduanya cocok.[17] Dalam teori ini, tidak semua gaya kepemimpinan tepat diterapkan untuk mempengaruhi dan menggerakkan bawahan dalam melaksanakan tugas pekerjaannya. Penerapan gaya kepemimpinan akan tepat apabila sesuai dengan situasi yang terjadi dalam suatu organisasi. Gaya kepemimpinan tidak perlu untuk dirubah melainkan menyesuaikan dengan kondisi yang ada terkait dengan tipe dari bawahan maupun jenis tugas pekerjaan yang harus diselesaikan dalam mewujudkan tujuan organisasi.

Harsey and Blanchard yang dikutip Gibson, et. al., mengembangkan empat gaya kepemimpinan, yaitu sebagai berikut:

1.   Telling. The leader defines the roles needed to do the job and tells followers waht, where, how, and when to do the tasks.

2.   Selling. The provides followers with structured instructions but is also supportive.

3.   Participating. The leader and followers share in decision about how best to complete a high-quality job.

4.   Delegating. The leader little specific, close direction or personal support to followers.[18]

Gaya telling (memberitahukan) dalam penerapannya, pemimpin sangat berperan untuk memberitahukan kepada bawahan tentang apa, di mana, bagaimana, dan kapan harus melakukan tugas. Gaya kepemimpinan ini dapat diterapkan apabila bawahan memiliki kematangan yang rendah, sehingga tanpa pemberitahuan secara jelas dan terinci bawahan tidak memahami apa yang menjadi tugas pekerjaan untuk dilakukan.

Gaya selling (menjual) dalam penerapannya pemimpin memberikan instruksi yang terstruktur yang disertai dengan dukungan. Gaya kepemimpinan ini diterapkan ketika bawahan memiliki tingkat kematangan yang rendah menuju ke tingkat sedang, di mana bawahan tidak mampu atau memiliki keterampilan yang kurang memadai, tetapi memiliki kemauan untuk bertanggungjawab dan melaksanakan tugas pekerjaan. Untuk keberhasilan pelaksanaan tugasnya, diperlukan dukungan yang diberikan pemimpin.

Gaya participating (berpartisipasi) dalam penerapannya pemimpin dan bawahan bersinergi dalam pengambilan keputusan yang terbaik dalam menyelesaikan pekerjaan agar hasilnya memiliki kualitas yang tinggi. Pemimpin mengikutsertakan bawahannya dalam pengambilan keputusan akan membuat bawahan mengoptimalkan perannya dalam mengerjakan tugas pekerjaannya. Hal ini dikarenakan dengan keikutsertaannya tersebut membuat dirinya merasa bahwa keputusan yang diambil menjadi bagian dalam dirinya dan tanggungjawab untuk diwujudkan. Kepemimpinan partisipatif menjadi bawahan merasa nyaman dalam bekerja dan dorongan untuk berprestasi. Gaya kepemimpinan ini dapat diterapkan bagi bawahan yang memiliki kematangan tingkat sedang ke tingkat tinggi, di mana dirinya memiliki kemampuan namun dirinya tingkat kemauan melakukan tugas rendah. Kemauan yang rendah dapat disebabkan kurangnya partisipasi dirinya dalam pengambilan keputusan.

Gaya delegating (pendelegasian) dalam penerapannya, pemimpin sedikit memberikan arahan yang spesifik terhadap penyelesaian tugas pekerjaan. Pemimpin tidak harus memberikan dukungan yang tinggi dan menuntun bawahannya. Hal ini dikarenakan bawahan memiliki tingkat kematangan yang tinggi, di mana dirinya sudah memahami akan tugas pekerjaan dan memiliki tanggungjawab yang tinggi terhadap tugasnya itu. Pemimpin justru memberikan kesempatan dan memberikan kepercayaan bawahan dalam pengambilan keputusan tertentu terkait dengan pengembangan organisasi atau lembaga.

Menurut Path-Goal Leadership Theory dari House yang dikutip Luthan mengidentifikasikan empat gaya kepemimpinan, yaitu: 1) Pemimpin direktif, yaitu memberi kesempatan kepada bawahannya untuk mengetahui apa yang diharapkan, menjadwalkan pekerjaan yang akan dilakukan, dan memberikan pedoman yang spesifik mengenai cara menyelesaikan tugas, 2) Pemimpin suportif, yaitu menunjukkan keramahan dan perhatian akan kebutuhan para bawahannya, 3) Pemimpin partisipatif, yaitu berkonsultasi dengan bawahan dan menggunakan sarannya sebelum mengambil keputusan, 4) Pemimpin berorientasi pada prestasi, yaitu menetapkan sasaran yang menantang dan mengharapkan bawahan untuk berprestasi pada tingkat tertinggi.[19]

Menurut teori Multiple Leadership Style, terdapat enam gaya kepemimpinan, yaitu: (1) style of leadership the authoritative (gaya kepemimpinan otoritatif). (2) style of leadership the coercive (gaya kepemimpinan koersif), (3) style of leadership the affiliative (gaya kepemimpinan afiliatif), (4) style of leadership the democratic (gaya kepemimpinan demokratif), (5) style of leadership the pacesetting (gaya kepemimpinan penentu kecepatan), (6) style of leadership the coaching (gaya kepemimpinan pelatihan).[20] Gaya kepemimpinan otoritatif digunakan ketika seorang pemimpin menghendaki bawahanya untuk melaksanakan tugas tertentu. Dalam gaya ini, pemimpin memberikan banyak kepercayaan dan menuntut bawahan melaksanakan tugas yang dikehendakinya. Sedangkan dalam gaya kepemimpinan koersif, seorang pemimpin hanya menuntut bawahan untuk melakukan apa yang dikatakan bukan apa yang harus ditiru atau yang harus dilakukan seperti yang pemimpin lakukan. Dalam gaya koersif, pemimpin tidak menghendaki bawahan mengikuti apa yang dilakukan atau perbuatannya tidak boleh ditiru oleh bawahan. Kecenderungan gaya kepemimpinan koersif, seorang pemimpin tidak memberikan keteladanan, sehingga membuat dirinya tidak memiliki kedekatan ikatan secara psikologis dengan bawahannya.

Gaya kepemimpinan afiliatif diterapkan ketika seorang pemimpin menyadari bahwa dirinya tidak akan dapat berbuat apa-apa tanpa orang-orang yang membantunya atau bawahannya. Pemimpin mengerjakan tugas-tugas yang sulit bersama bawahannya dan tidak menempatkan dirinya di atas para bawahannya, meskipun dirinya memiliki kekuatan untuk melakukannya. Sedangkan gaya kepemimpinan demokratis, seorang pemimpin melibatkan bawahan untuk memberikan suara berkenaan dengan keputusan yang akan diambilnya. Kepemimpin memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berperan dan hal ini yang membuat dirinya merasa berharga. Dari hasil berbagai penelitian bahwa gaya kepemimpinan ini membuat bawahan menjadi sangat produktif.

Gaya kepemimpinan penentu kecepatan (pacesetting) dalam penerapannya seorang pemimpin membuat standar yang tinggi untuk diikuti dan dilakukan oleh bawahan dengan cara yang sama seperti yang pemimpin lakukan. Pemimpin menghendaki cara kerja bawahannya meniru cara kerjan yang telah ditunjukkannya. Sedangkan gaya kepemimpinan pelatihan atau pembinaan, seorang pemimpin menekankan pada pengembangan bawahan, yaitu meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan para bawahannya. Pemimpin berperan seperti pelatih yang melakukan pembinaan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan serta kemampuannya dalam melaksanakan tugas pekerjaannya.

Menurut Mangkuprawira bahwa tidak ada resep yang umum dalam menerapkan suatu gaya kepemimpinan tertentu. Ada kalanya dalam praktik kepemimpinan dapat menerapkan atau mengkombinasikan beberapa gaya kepemimpinan, namun ada kalanya hanya menerapkan satu gaya kepemimpinan. Pada suatu waktu memilih dan menerapkan salah satu gaya kepemimpinan akan memuaskan, namun dalam waktu yang berbeda justru sebaliknya. Untuk itulah diperlukan kemampuan melakukan adaptasi.[21] Misalkan dalam suatu organisasi memerlukan pegawainya harus segera menyelesaikan tugas pekerjaan akan tepat menerapkan gaya mengarahkan dan gaya yang berorientasi tugas. Tekanan yang diberikan akan mendorong pegawai menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Namun, terkait dengan keterlibatan dalam pengambilan keputusan, maka menerapkan gaya kepemimpinan tersebut tidaklah tepat. Pegawai akan merasa puas apabila penerapakan gaya demokratis atau partisipatif justru akan memuaskan. Hal ini dikarenakan pegawai akan merasa kemampuannya dihargai dan dirinya dapat memberikan kontribusi yang signifikan pada organisasi atau lembaga di mana dirinya bekerja.

Penerapan gaya kepemimpinan tergantung pada situasi dan karakteristik dari orang-orang yang bekerja pada lembaga atau organisasi. Tidak ada satu gaya kepemimpinan dapat dikatakan tepat dan hasilnya memuaskan apabila digunakan selalu dalam setiap kesempatan kerja. Penggunaan gaya kepemimpinan tergantung kesiapan para pegawai menerima tugas dan menyelesaikannya dan semuanya juga terkait karakteristik kepribadian individunya. Menerapkan gaya kepemimpinan yang kolaboratif atau kombinasi dari beberapa gaya akan dapat memberikan hasil yang tepat dan memuaskan sehingga pemimpin dapat mendorong serta menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan organisasi.

Berdasarkan kajian teori-teori yang telah diuraikan, maka yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan dalam penelitian ini adalah suatu cara yang digunakan pemimpin untuk mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya agar melaksanakan tugas pekerjaan dengan penuh tanggungjawabnya dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Gaya kepemimpinan ini yang diukur dengan tujuh indikator, yaitu: 1) Gaya direktif, dengan indikator-indikator: (a) memberi kesempatan kepada bawahannya untuk mengetahui apa yang diharapkan untuk dilakukannya, (b) menjadualkan pekerjaan, dan (c) memberikan pedoman yang spesifik mengenai cara menyelesaikan tugas. 2) Gaya suportif, dengan indikator-indikator: (a) menunjukkan sikap ramah kepada bawahan, dan (b) memberikan perhatian akan kebutuhan bawahan. 3) Gaya partisipatif atau demokratif, dengan indikator-indikator: (a) berkonsultasi dengan bawahan, dan (b) menggunakan saran yang diberikan bawahan sebelum mengambil keputusan. 4) Gaya berorientasi pada prestasi, dengan indikator-indikator: (a) menetapkan sasaran yang menantang, dan (b) mengharapkan bawahan untuk berprestasi pada tingkat tertinggi. 5) Gaya pendelegasian, dengan indikator-indikator: a) memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengoptimalkan kemampuannya, b) memberikan kepercayaan bawahan dalam pengambilan keputusan. 6) Gaya Telling (memberitahukan), dengan indikator-indikator: a) memberitahukan tentang apa yang menjadi tugas pekerjaan, b) memberitahukan tentang bagaimana dan kapan pekerjaan dilakukan. 7) Gaya Selling (menjual), dengan indikator-indikator: a) memberikan instruksi yang jelas, b) Memberikan dukungan. 8) Gaya kepemimpinan koersif, dengan indikator-indikator: a) menuntut bawahan melakukan apa yang diperintahkan, b) meninta bawahan untuk tidak meniru apa yang dilakukan. 9) Gaya kepemimpinan afiliatif, dengan indikator-indikator: a) mengerjakan tugas-tugas yang sulit bersama bawahannya, b) tidak menempatkan dirinya di atas para bawahannya. 10) Gaya kepemimpinan penentu kecepatan (pacesetting), dengan indikator-indikator: a) membuat standar yang tinggi untuk diikuti, b) menghendaki cara kerja bawahannya meniru cara kerjan yang telah ditunjukkan pemimpin. dan 11) Gaya kepemimpinan pelatihan atau pembinaan (coaching) dengan indikator-indikator: a) melakukan pembinaan, b) meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan para bawahannya.

 


[1]Fred Luthans. 2011. Organizational Behaviour: An Avidence-Based Approach. 12th Edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc., hal. 413.

[2]Gorger. R. Terry, 1972. Principles of Management, Illionis: Homewood, hal. 458.

[3]Stephen P. Robbins & Mary Coulter. Management. 11th Edition. Harlow, England: Pearson Education Limited, hal. 488.

[4]Ibid., 638.

[5]Tb. Sjafri Mangkuprawira. 2009. Horison: Bisnis, Manajemen, dan Sumberdaya Manusia. Bogor: IPB Press, 118

[6]Jerald Greenberg & Robert A. Baron. 2008. Behavior in Organization. Upper Saddle River, New Jersey: Pearson Education, Inc., hal. 501.

[7]Vincent Gabriel. 2004. Management. 3rd Edition.  Longman Pearson Education South Asia,Ltd, hal. 251.

[8]Sedarmayanti. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia: Reformasi Birokrasi dan Manajemen Pegawai negeri Sipil. Bandung: Refika Aditama, hal. 249.

[9]Robert Kreitner & Angelo Kinicki. Organizational Behavior. 9th Edition.  New York: MgGraw-HillCompanies Inc, hal. 465.

[10]Ibid., hal. 467.

[11]James L. Gibson, et.al., 2012. Organization:Bbehaviour, Structure, Processes.14th Edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc, hal. 314.

[12]Anthony D’Souza. 2007. Proactive Visionary Leadership, Jakarta: PT. Trisewu Nagawarsa, hal. 8

[13]FX. Suwarto, 2010. Perilaku Keorganisasian. Edisi Revisi. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya, hal. 207.

[14]Gary Yukl. 2007. Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta: INDEKS, hal. 4.

[15]Ibid., 8

[16]Viethzal Rivai. 2003. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: RajaGrafindo Persada. hal. 64.

[17]Michael G. Aamodt. 2010. Industrial?Organizational Psychology 6th Edition.. Belmont, USA: Wadsworth Cengage Learning, hal. 447.

[18]James L. Gibson. Op. Cit., 331.

[19]Stephen P. Robbins. Op. Cit., 430.

[21]Tb. Sjafri Mangkuprawira, Op. Cit., 116.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 715 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: