Evaluasi Negatif dan Positifnya Perawi Hadis


Al-Jarhu wa Al-Ta’dil

(Evaluasi Negatif dan Positifnya Perawi Hadis)

Oleh: Ridwan, S.Ag

(SMPN 202 Jakarta)

A. Latar Belakang Histori

Terbunuhnya Umar bin al-Khattab pada tahun 24 H tidak banyak mempengaruhi perkembangan ilmu Kritik Hadis. Namun terbunuhnya Utsman bin ‘Affan pada tahun 36 H, begitu pula terbunuhnya al-Husein bin Ali pada tahun 61 H, yang diiringi lahirnya kelompok-kelompok politik dalam tubuh umat Islam, sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu Kritik Hadis. Karena untuk memperoleh legitimasinya masing-masing kelompok itu mencari dukungan dari Hadis Nabi s.a.w. Apabila Hadis yang dicarinya tidak ditemukan, mereka kemudian membuat Hadis palsu.

Sejak saat itu para ulama kritikus Hadis dalam menyeleksi Hadis tidak hanya mengkritiknya dari segi matannya, melainkan juga dengan meneliti identitas periwayat Hadis tersebut. Imam Muhammad bin Sirin (33-110 H) menuturkan, “Pada mulanya kaum muslimin tidak pernah menanyakan sanad. Namun setelah terjadi fitnah (terbunuhnya Utsman bin Affan), apabila mendengar Hadis mereka selalu menanyakan dari siapa Hadis itu diperoleh. Apabila diperoleh dari Ahlus-Sunnah, Hadis itu diterima sebagai dalil dalam agama, dan apabila diperoleh dari orang-orang penyebar bid’ah, Hadis itu ditolak.[1]

Maka sejak saat itu, para ulama ahli Hadis membuat persyaratan-persyaratan yang sangat ketat untuk rawi-rawi yang dapat diterima Hadisnya, di samping kriteria-kriteria teks Hadis yang dapat dijadikan sebagai sumber ajaran Islam.

Kajian masalah kualifikasi perawi hadis tumbuh dan berkembang menjadi suatu cabang ilmu hadis yang disebut ‘ilm jarh wa ta’dil, yakni suatu ilmu yang mempelajari perihal para periwayat hadis dari segi sifat jelek dan sifat baik (terpuji) yang dimilikinya untuk mengetahui apakah dengan demikian riwayatnya dapat diterima ataukah harus ditolak.

Ilmu ini tumbuh dan berkembang seiring dengar pertumbuhan dan perkembangan periwayatan hadis itu sendiri, karena untuk dapat menyeleksi hadis yang dapat diterima atau ditolak, haruslah dengan mengetahui keadaan para periwayatnya, yakni dengan melakukan jarh wa ta’dil. Para sahabat, para tabiin, dan ulama hadis generasi berikutnya tidak mau begitu saja menerima hadis yang sampai kepada mereka, kecuali apabila yang menyampaikannya itu orang yang mereka kenal dan dapat dipercaya[2].

Di kalangan sahabat yang terkenal melakukan jarh dan ta’dil ialah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin al-Khattab, Ali bin Abi Talib, dan Zaid bin Sabit. Dari kalangan tabiin: asy-Sya’bi, Ibnu Sirin, al-A’masy, dan Syu’bah. Generasi selanjutnya di antaranya ialah Ibnu al-Mubarak, Ibnu Uyainah, Ibnu Mahdi, Yahya bin Ma’in, dan Imam Ahmad bin Hanbal, di samping imam-imam hadis terkenal, seperti Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Dawud.

Para pakar Ilmu-ilmu Hadis menilai bahwa abad pertama hijrah merupakan periode pertumbuhan Ilmu-ilmu Hadis. Sementara sejak awal abad kedua sampai awal abad ketiga dinilai sebagai peiriode penyempurnaan. Sedangkan masa berikutnya, sejak awal abad ketiga sampai pertengahan abad keempat merupakan masa pembukuan. Pada masa ini para ahli Hadis mulai membukukan Ilmu-ilmu Hadis, meskipun secara parsial. Misalnya, Yahya bin Ma’in (w 234 H) menulis Tarikh al-Rijal, Ahmad bin Hanbal (w 241 H) menulis al-I’lal wa Ma’rifah al-Rijal. Bahkan sebelum mereka, Muhammad bin Sa’d (w 230 H) telah menulis al-Tabaqat al-Kubra,[3] Ibnu Abi Hatim al-Razi (w 327 H) juga menulis buku kritik terhadap rawi-rawi Hadis, berjudul al-jarh wa al-Ta’dil. Sementara Ibnu Hibban al-Busti (w 354 H) menulis buku yang khusus mengkritik rawi-rawi yang ditolak Hadisnya, berjudul Kitab al-Majruhin. Imam Bukhari (w 256 H) juga menulis buku kritik Rawi Hadis, berjudul al-Tarikh al-Kabir.

B. Definisi

Al-jarh dan al-ta’dil adalah dua istilah dalam ilmu hadits, yang artinya ialah ‘melukai’ dan ‘mengadilkan, yakni, memandang sebagai adil’, yakni, kritik negatif dan positif kepada para tokoh penutur hadits. Dengan al-jarh, segi-segi kelemahan seorang tokoh penutur hadits diungkapkan, dan dengan al-ta’dil segi-segi kekuatannya yang diungkapkan. Dengan begitu dapat diperkirakan, atau diketahui, sampai sebuah hadlis yang diriwayatkan oleh orang bersangkutan dapat dipercaya (shahih, sahih) atau tidak[4]

Al-Jarh ( ﺍﻟﺠﺭﺡ ) secara etimologis merupakan bentuk mashdar dari kata ﻳﺟﺮﺡ ﺟﺮﺡ – yang berarti seseorang membuat luka pada tubuh orang lain yang ditandai dengan mengalirnya darah dari luka itu.[5]

Al-Jarh secara terminologis berarti munculnya suatu sifat dalam diri perawi yang menodai sifat adilnya atau mencacatkan hafalan dan kekuatan ingatannya yang mengakibatkan gugur riwayatnya atau lemah riwayatnya atau bahkan tertolak riwayatnya. Sedang “at-Tajrih ” menyifati seorang perawi dengan sifat-sifat yang membawa konskuensi penilaian lemah atas riwayatnya atau tidak diterima.[6]

AI-Adl ( ﺍﻟﻌﺪﻝ ) secara etimologis berarti sesuatu yang terdapat dalam jiwa bahwa sesuatu itu lurus, merupakan lawan dari lacur. Orang adil berarti yang diterima kesaksiannya. Ta’dil pada diri seseorang berarti menilainya positif.[7]

AI-Adl secara terminologis berarti orang yang tidak memiliki sifat yang mencacatkan keagamaan dan keperwiraannya. Sehingga khabar dan kesaksiannya bisa diterima, bila dipenuhi pula syarat-syarat yang membersihkannya sehingga tampak sifat adilnya dan dapat diterima khabarnya.[8]

Dengan demikian, Ilmu al-Jarh Wa at-Ta’dil berarti Ilmu yang membahas hal-ihwal para perawi dari segi diterima atau ditolak riwayat mereka[9] atau ilmu yang membahas kaidah-kaidah untuk menentukan status perawi hadis, baik yang berkaitan dengan kecacatan atau keadilannya dengan lafadz-lafadz khusus, baik untuk menerima Hadits maupun menolaknya.[10]

C. Ruang Lingkup

  1. Tarjih rawi berkaitan dengan hal-hal sebagal berikut:

a. Bid’ah, yakni mempunvai i’tikad beriawanan dengan dasar syariat. Orang tersebut digolongkan sebagal fasik. Bid’ah juga bisa digolongkan kafir, seperti golongan Rafidhah yang mempercayal bahwa Tuhan menyatu dengan All dan imam-imain lain, dan mempercayai bahwa Ali akan kembali kedunia sebelum kiamat.

b. Mukhalafah, yakni perlawanan sifat adil dan dhabith seorang rawi dengan rawi yang lain yang lebih kuat yang tidak dapat di-jama’-kan atau dikompromikan.

c. Ghalath, yakni kesalahan, seperti lemah hafalan atau salah sangka, baik sedikit maupun banyak kesalahan yang dilakukan .

d. Jahalatul hal, yakni tidak diketahul identitasnya.

e. Da’wa al-Inqitha’, yakni mendakwa, terputusnya sanad.

  1. Kaidah Tarjih dan Ta’dil ada dua macam:

a. Naqd Khariji, atau kritik eksternal, yaitu tentang cara dan sahnya riwayat dan tentang kapasitas rawi.

b. Naqd Dakhili, kritik internal, yaitu tentang makna Hadits dan syarat keshahihannya.

  1. Syarat pentarjihan dan pen-Ta’dil-an adalah:

a. berilmu

b. taqwa,

c. wara,

d. jujur,

e. menjauhi fanatik golongan,

f. mengetahul sebab-sebab ta’dil dan tajrih (mufassar)[11]

D. Dasar Hukum

Kaidah-kaidah umum syari’at menunjukkan kewajiban memelihara sunnah. Dan menjelaskan hal-ihwal para perawi merupakan salah satu sarana untuk menjaga sunnah.

Meskipun ajaran dasar Islam melarang umatnya menyebut dan mengungkap sifat jelek seseorang, namun menyelidiki dan mengungkap sifat jelek para periwayat hadis bukanlah hal yang dilarang, karena tujuan utamanya adalah untuk memelihara kemurnian dan kebenaran hadis Rasulullah SAW dari periwayatan orang-orang yang tidak dapat dipercaya. Oleh karena itu, seperti dikatakan oleh Nuruddin Atr, muhaddis dari Suriah, ulama sepakat bahwa jarh wa ta’dil adalah suatu hal yang disyariatkan (di anjurkan oleh agama), bahkan termasuk hal yang diwajibkan, karena perlu untuk memelihara sumber ajaran agama.[12]

Para ulama sepakat bahwa Jarh wat Ta’dil dibolehkan dalam syariat Islam bahkan Jarh wat Ta’dil mutlak diperlukan untuk melihat kondisi suatu Hadits dari sisi sanadnya. Proses Jarh wat Ta’dil bukan termasuk ghibah yang diharamkan dalam agama, karena Jarh wat Ta’dil dilakukan untuk mengetahui bagaimana kwalitas kepribadian seorang rawi, apakah ia termasuk orang yang boleh diterima Haditsnya atau tidak.[13]

Dalil disyariatkannya jarh wa ta’dil terhadap para periwayat hadis tersebut adalah antara lain:

Firman Allah Azza wa Jalla: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu.” (Al-Hujurat: 6)

Di tempat lain, Allah SWT juga berfirman: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai[14], supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya.” (Al-Baqarah: 282)

Berkenaan dengan al-Jarh, Rasulullah SAW. bersabda: “Seburuk-buruk saudara keluargaku adalah dia.[15]

Dan berkenaan dengan ta’dil, beliau bersabda: “Sebaik-baik hamba Allah adalah Khalid ibn al-Walid, sebilah pedang dari pedang-pedang Allah.”[16]

E. Fungsi dan Kegunaan

Ilmu Jarh wat Ta’dil sangat berguna untuk menentukan kualitas perawi dan nilai hadisnya. Membahas sanad terlebih dahulu harus mempelajari kaidah-kaidah Jarh Wat Ta’dil yang telah banyak dipakai para ahli, mengetahui syarat-syarat perawi yang dapat diterima, cara menetapkan keadilan dan kedabitan perawi dan hal-hal lain yang berhubungan dengan bahasan ini. Seseorang tidak dapat memperoleh simpulan yang benar ketika membaca biografi perawi dalam kitab-kitab biografi, jika mereka tidak terlebih dahulu mengetahui kaidah-kaidah Jarh dan Ta’dil, maksud, dan derajat (tingkatan) istilah yang dipergunakan dalam ilmu ini, dari tingkatan Ta’dil yang tertinggi sampai pada tingkatan Jarh yang paling rendah.[17]

F. Lafadz-lafadz Jarh dan Ta’dil

Abu Muhammad Abdur Rahman bin Abu Hatim Ar Razi dalam mukadimah kitab AI-Jarh Wat-Ta’dil telah membagi lafal jarh dan ta’dil menjadi empat tingkatan dan menjelaskan nilainya. Az-Zahabi dan Al-Iraqi menambah satu tingkatan Ta’dil yang lebih tinggi daripada tingkatan pertama menurut Ar Razi (Ibnu Abi Hatim), yaitu penilaian siqah yang djulang-ulang, seperti siqatun-siqatun atau siqatun-hudatun. Pada akhirnya Al Hafiz lbnu Hajar Al-Asqalani menambah satu tingkatan yang lebih tinggi daripada tingkatan tambahan Az-Zahabi dan Al Iraqi, yaitu sigat tafdil, seperti ausaqun nas, atau asbatunnas. Sehingga tingkatan ta’dil akhimya menjadi enam.

Demikian juga ulama lain menambahkan dua tingkatan jarh selain beberapa tingkatan yang telah dikemukakan Ibnu Abi Hatim, sehingga lafal dan tingkatan jarh menjadi enam juga.

Tingkat dan Bentuk Lafadz-lafadz Ta’dil[18]

No

Bentuk Lafadz

Status Kehujjahan/Dampak dari lafadz yang digunakan

1

Lafadz berwazan af’al al-tafdhil yaitu Kata-kata yang menunjukkan penilaian sangat siqah atau mengikuti wazan: af’alu. Kata-kata ini menempati tingkatan tertinggi.

ﺍﻟﻨﺎﺲ ﺍﺜﺑﺕ

ﺍﻮﺛﻖ ﺍﻟﻨﺎﺲ ﺤﻔﻈﺎ

ﻮ ﻋﺪﺍﻠﺔ

ﺍﻠﺜﺑﺕ ﻔﻰ ﺍﻟﻤﻨﺘﻬﻰ ﺍﻟﻳﻪ

Ta’dil pada tingkat 1,2 dan 3 dapat dijjadikan hujjah, sekalipun tingkatan sebagian berbeda dengan tingkatan yang lain

2

Lafadz yang diulang, atau kata majmuk setara atau Kata-kata yang dikokohkan dengan satu atau dua dari sifat-sifat penilaian siqah.

ﺜﺒﺕ ﺜﺒﺕ ﺜﻗﺔ ﺜﻗﺔ

3

Lafadz mufrad yang bermakna dhabit atau Kata-kata yang menunjukkan penilaian siqah tanpa penguat.

ﺜﻗﺔ ﻤﺘﻗﻦ ﺜﺑﺕ

ﺿﺎﺑﻄ ﻋﺪﻞ

4

Lafadz yang tidak menunjukkan adanya ke-dhabith-an atau Kata-kata yang menunjukkan keadilan (ta’dil) tanpa diterangkan kedabitannya.

ﻻﺑﺄﺱﺑﻪ ﻤﺄﻤﻮﻥ ﺼﺪﻭﻖ

Ta’dil pada tingkatan 4 dan 5 tak dapat dijadikan hujjah, akan tetapi hadits-hadits mereka dapat dijadikan ikhtibar dengan membandingkan hadits mereka dengan hadits lain yang lebih kuat, jika hadits perawi tingkatan ini sesuai dengan hadits yung lebili kuat maka hadits mereka dapat dijadikan hujjah,.jika sebaliknya, maka hadits mereka tak dapat dijadikan hujjah

5

Lafadz yang tidak menunjukkan kesangatan (muhalaghah) atau

Kata-kata yang tidak menunjukkan penilaian siqah atau penilaian cacat.

ﺍﻠﺼﺪﻖ ﻣﺣﻞ

ﺍﻠﺤﺪﻴﺚ ﺠﻳﺪ

ﺣﺳﻦ ﺍﻠﺤﺪﻴﺚ

ﻮﺴﻃ ﻔﻼﻦ

6

Lafadz-Lafadz yang diiringi Iafazh Musyiah (insya Allah) : atau dimulai dengan pengharapan atau ditashghirkan (dianggap kecil) atau Kata-kata yang mendekati penilain cacat (tajrih).

ﺍﷲ ﺍﻨﺷﺎﺀ ﺼﺪﻮﻖ

ﺑﻪ ﺑﺄﺲ ﺑﺎﻦ ﺍﺭﺠﻮ ﻔﻼﻥ

ﺼﻮﻳﻠﺢ ﻔﻼﻥ

ﺑﻪ ﻴﻌﺗﺑﺭ ﻔﻼﻦ

Sedangkan ta’dil pada tingkatan terakhir maka hadits yang diriwayatkan rawi dari tingkatan ini tak dapat diterima, akan tetapi hadits mereka boleh saja ditulis, sebagai i’tibar bukan sebagai ikhtibar

Tingkat dan Bentuk Lafadz-lafadz Jarh[19]

No.

Bentuk Lafadz

Status Kehujjahan/Dampak dari lafadz yang digunakan

1

Kata-kata yang menunjukkan penilaian lemah (talyin) merupakan tingkatan jarh yang paling ringan di antara beberapa tingkatan jarh.

ﻟﻴﻥ ﻔﻼﻥ

ﺑﺎﻠﺣﺠﻪ ﻠﻳﺲ ﻔﻼﻥ

ﻔﻴﻪ ﻤﻘﺎﻞ ﻔﻼﻥ

Perawi pada tingkat pertama dan kedua, hadisnya tidak dapat dibuat hujjah sama sekali, namun tetap ditulis sebagai perbandingan (i’tibar), meski perawi pada tingkat

kedua di bawah (jauh berbeda dengan) tingkat perawi pertama.

2

Lafazh yang mengandung arti tidak dapat dipakai berhujjah yang semakna dengan lafazh tersebut atau Kata-kata yang menunjukkan larangan berhujjah dengan riwayat seorang perawi, atau kata-kata yang serupa dengannya.

ﺑﻪ ﻴﺣﺗﺞ ﻔﻼﻥ

ﻤﺠﻬﻮﻞ ﻔﻼﻥ

ﺍﻟﺣﺪﻴﺙ ﻤﻨﻜﺭ ﻔﻼﻥ

3

Lafazh tuduhan tercecat atau Kata-kata yang menunjukkan bahwa hadis seorang perawi tidak boleh ditulis (dikutip) atau kata-kata yang serupa dengannya.

ﻀﻌﻴﻑ ﻔﻼﻥ

ﺤﺪﻴﺛﻪ ﻳﮑﺗﺐ ﻔﻼﻥ

ﺍﻟﺣﺪﻴﺛ ﻣﻃﺭﺡ

Perawi pada empat tingkatan terakhir (ketiga, keempat, kelima, dan keenam), hadisnya tidak dapat dibuat hujah, tidak ditulis, dan tidak dipakai sebagai perbandingan

lagi. Karena mereka tidak mungkin dapat menjadi kokoh atau dikokohkan lainnya.

4

Lafazh-lafazh tuduhan bersifat dusta atau lafazh yang lebih ringan atau Kata-kata yang menunjukkan tertuduhnya seorang perawi dengan pendusta, atau sesamanya.

ﺑﺎﻠﮑﺬﺏ ﻤﺘﻬﻢ ﻔﻼﻦ

ﺑﺎﻠﻮﻀﻊ ﻣﺗﻬﻢ ﺍﻮ

ﺍﻠﺤﺪﻳﺚ ﻤﺘﺭﻮﻚ ﻓﻼﻦ

5

Lafadz yang bersighat muballaghah atau diulang, atau kata majmuk setara atau Kata-kata yang menunjukkan dustanya seorang perawi atau sesamanya.

ﺪﺠﺎﻞ ﻜﺫﺍﺏ ﻮﻀﺎﻉ

6

Lafadz berwazan af’al al-tafdhil atau

Kata-kata yang menunjukkan bahwa seorang perawi adalah pendusta yang berlebihan dan kata-kata sesamanya. Tingkatan ini yang paling jelek di antara beberapa tingkatan jarh.

ﺍﻟﻧﺎﺲ ﺍﻛﺬﺏ

ﺍﻟﻧﺎﺲ ﺍﻮﻀﻊ

ﺍﻠﻮﻀﻊ ﻓﻲ ﺍﻤﻨﺘﻬﻰ ﺍﻠﻳﻪ

G. Beberapa Masalah dalam Jarh wat Ta’dil

Jika terdapat pertentangan penilaian di kalangan ulama hadis terhadap seorang periwayat, misalnya sebagian ulama hadis menilainya sebagai periwayat yang ‘adil, sedangkan sebagian lain menilainya sebagai periwayat yang terkena jarh, maka terhadap persoalan ini terlebih dahulu diperlukan kajian lebih jauh, sebab boleh jadi pertentangan itu hanya lahiriah, sedang hakikatnya tidaklah bertentangan. Sebagai contoh, adakalanya seorang periwayat dinilai terkena jarh oleh sebagian ulama hadis karena mereka mengenalnya sebagai orang fasik, tetapi sebagian lain mengetahui sekali bahwa periwayat tersebut telah tobat dengan sebenarnya. Oleh karena itu, dalam kasus seperti ini tidak ada pertentangan, karena keduanya dapat dikompromikan. Periwayat tersebut dinilai jarh sesuai dengan sifat fasiknya, dan dinilai ‘adil setelah ia tobat dengan sebenarnya. Riwayatnya ketika fasik ditolak dan riwayat yang disarnpaikannya setelah tobat dapat diterima.[20]

Apabila terdapat perlawanan atau ta’arudh antara jarh dan ta’dil pada seorang rawi, yakni sebagian ulama men-ta’dil-kan dan sebagian ulama yang lain men-tajrih-kan, terdapat beberapa pendapat:

1. Jarh didahulukan secara mutlak walaupun mu’adilnya lebih banyak daripada jarih-nya. Sebab bagi jarih mempunyaji kelebihan ilmu yang tidak diketahui oleh mu’addil dan kalau jarih dapat membenarkan mu’addil tentang apa yang dibedakan menurut lahirnya saja.

2. Ta’dil didahulukan dari jarh, karena dalam mengabaikan rawi kurang tepat dalam hal sebab pencatatannya apalagi kalau dipengaruhi rasa benci. Sedang mu’addil tidak serampangan men-ta’dil-kan seseorang.

3. Ta’dil didahulukan bila jumlah mu’addil lebih banyak daripada jarih-nya, lebih banyak dipandang lebih kuat.

4. Tetap dalam ta’arudh bila tidak ditemukan yang merajihkan

Dari tajrih atau ta’dil yang menghasilkan jarih-nya seorang rawi, sebaiknya masih harus diteliti berulang-ulang, agar tidak menimbulkan kegoncangan sebab mungkin saja ada kelemahan dalam kondisi jarih atau sebab jarh-nya, atau tajrih-nya dulu keras[21].

Apabila tidak ditemukan hal-hal yang dapat mengkompromikan pertentangan penilaian tersebut, maka dalam menanggapi persoalan ini di kalangan ulama hadis terdapat tiga cara penyelesaian.

1. Jumhur ularna hadis berpendapat bahwa didahulukan penilaian jarh daripada penilaian ‘adil meskipun yang menilai ‘adil lebih banyak daripada yang menilai jarh. Alasannya ialah karena ulama yang menilainya sebagai terkena jarh meneliti hal-hal yang tidak terungkap oleh ulama yang menilainya sebagai ‘adil, karena pengertian jarh lebih teliti kajiannya daripada ta’dil. Atas dasar ini lahirlah ungkapan jarh muqaddam ‘ala ta’dil (penilaian jarh didahulukan daripada penilaian ta’dil.

2. Imam as-Suyuti, ketika mensyarah kitab hadis at- Taqrib wa a t-Taisir yang disusun Imam an-Nawawi, mengatakan bahwa apabila banyak yang menilai tadil daripada jarh, didahulukan atau dipedomani penilaian ta’dil daripada jarh. Alasannya ialah bahwa banyaknya ulama yang menilai ta’dil menunjukkan bahwa itulah yang kuat dan ditinggalkan yang lemah.

3. Imam an-Nasa’i tidak berpihak pada salah satu pun di antara dua penilaian yang bertentangan tersebut, kecuali apabila ditemukan dalil lain yang menunjukkan kuatnya salah satu di antara keduanya. Selama tidak ditemukan dalil lain yang menguatkan salah satunya, maka riwayatnya dibekukan, tidak dikategorikan diterima dan tidak pula ditolak.[22]

DAFTAR PUSTAKA

1. Dr. Muhammad ‘Ajaj Khatib, Ushul al-Hadits, Terjemah M. Qadirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Pokok-pokok Ilmu Hadits, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001.

2. Dr. Mahmud at-Tahhan, Ushulul Takhrij wa Dirasatul Asanid, Alih bahasa Ridlwan Nasir, Metode Tahrij dan Penelitian Sanad Hadis, Surabaya: Bina Ilmu, 1995.

3. Dr. Mustafa al-Siba’i, Al-Sunnah wa Makanatuhu fi al-Tasyri’ al-Islami, Sunnah dan peranannya dalam penetapan syari’at Islam, penerjemah, Nurcholish Madjid, Jakarta : Pustaka Firdaus, cet.ke-3, 1995, h. 80-84

4. Dr. Amin Abu Lawi, Ilmu Ushul Jarhi wat Ta’dili, Makkah: Dar ibn Afwan, 1997. cet.ke-1

5. Drs. H. Endang Soetari, Ad., M.Si, Ilmu Hadits, Bandung: Amal Bakti Press, 1997, cet.ke-2.

6. Abdu Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdu al-Hadi, Ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil: Qawaiduhu wa Aimmatuhu, Mesir: Darun Nasyri lil Azhar, 1998.

7. Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Sulaiman Mar’ie, Singapore, tth.

8. Ensklopedi Hadis, Jakarta: Intermasa, 2003. cet. ke-1


[1]Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Sulaiman Mar’ie, Singapore, tth., ii/76-71.

[2] Ensklopedi Hadis, Jakarta: Intermasa, 2003, h.36-63

[3] Ibid, h. 36-63

[4] Mustafa al-Siba’i, Al-Sunnah wa Makanatuhu fi al-Tasyri’ al-Islami, Sunnah dan Peranannya dalam penetapan syari’at Islam, penerjemah, Nurcholish Madjid, Jakarta: Pustaka Firdaus, cet.ke-3, 1995, h.80-84

[5] Lisan al-‘Arab, pokok kata J-R-H, hal. 246, juz III

[6] Dr. Muhammad ‘Ajaj Khatib, Ushul al-Hadits, Terjemah M. Qadirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Pokok-pokok Ilmu Hadits, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001, cet.ke-2, h. 233

[7] Lisan al-‘Arab, pokok kata ‘A-D-L, hal. 456, juz XIII

[8] Ajaj Khatib, op.cit.

[9] Ibid, h. 234

[10] Dr. Amin Abu Lawi, Ilmu Ushul Jarhi wat Ta’dili, Makkah: Dar ibn Afwan, 1997, cet.ke-1, h.72

[11] Endang Soetari, Ilmu Hadits, Bandung: Amal Bakti Press, 1997, cet.ke-2, h.205-207

[12] Ensklopedi, op. cit

[13] Abdu Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdu al-Hadi, Ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil: Qawaiduhu wa Aimmatuhu, Mesir: Darun Nasyri lil Azhar, 1998.

[14] Yang dimaksud saksi yang diridhai adalah orang yang kita ridhai agama dan kejujurannya. Pengutipan dan periwayatan hadits merupakan bentuk dari kesaksian itu. Oleh karena itu, hadis tidak diterima kecuali dari orang tsiqat.

[15] al-I’lan Bi at-Taubikh Li Man Dzamma at-Tarikh, hal. 52 dan al-Kifayah, hal. 38-39. Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, h.234

[16] Ditakhrij oleh Imam Ahmad dan Tirmidziy dari Abu Hurairah, Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, h.235

[17] Mahmud at-Tahhan, Ushulul Takhrij wa Dirasatul Asanid, Alih bahasa Ridlwan Nasir, Metode Tahrij dan Penelitian Sanad Hadis, Surabaya: Bina Ilmu, 1995, h.100-104

[18] Muhammad Thahan dan Endang, op.cit

[19] Ibid

[20] Ensklopedi Hadis, op.cit

[21] Endang Soetari, op.cit

[22] Ensklopedi Hadis, op.cit

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: