Dampak Sosial Ekonomi


DAMPAK SOSIAL EKONOMI
TERHADAP NILAI-NILAI ETIKA AGAMA

PENDAHULUAN
Maju mundurnya suatu bangsa sangat ditentukan oleh nilai-nilai etika yang tertanam pada bangsa tersebut. Jika nilai etika yang kurang baik, yang lebih dominan pada kehidupan bangsa maka kehidupan sosial pun berdampak negatif. Begitu pula sebaliknya, jika nilai etika yang dominan pada kehidupan masyarakat adalah nilai-nilai positif, maka hasilnya pun akan positif. Hal ini menjadi acuan interaksi sosial dalam masyarakat.
Salah satu nilai-nilai negatif yang tampak jelas tertanam dalam berbangsa dan bernegara adalah korupsi diberbagai bidang kehidupan, dari tingkat micro sampai macro. Dan hal ini menjadi pemandangan wajib media cetak dan elektronik. Nilai-nilai kekerasan adalah aspek lain yang biasa disuguhkan untuk masyarakat dan masih banyak lagi yang tak dapat disebutkan, yang kesemuanya merupakan cerminan dari kurangnya –kalau tidak dikatakan rendah– tingkat ekonomi dan moral bangsa.
Rendahnya tingkat sosial dan moral suatu bangsa akan tercermin dari kehidupan bangsa tersebut secara macro. Banyaknya penyelewengan sikap dan perbuatan personal merupakan contoh nyata dari hal tersebut. Nilai kehidupan seperti inilah yang perlu dibenahi ke arah yang lebih produktif sesuai dengan nilai-nilai etika bangsa. Nilai-nilai yang dimaksud adalah sebagaimana tersirat dalam hadits Rasulallah untuk “menghindari kefakiran” dalam kehidupan. Karena kefakiran inilah yang membawa penyakit hati dalam diri manusia. Lalu bagaimanakah menghindari kefakiran tersebut?. Al-Qur’an mengisyaratkan kepada manusia untuk kreatif mencari karunia tuhan dengan segala kemampuan, dan perubahan pada diri manusia adalah hasil kreatifitas manusia itu sendiri. Oleh karena itu perbuatan manusia dalam interaksi sosial harus memperhatikan keadaan lingkungan, sebagai kontrol kehidupan.

PEMBAHASAN
Kehidupan manusia yang semakin komplek, menjadikan kebutuhan manusia semakin bertambah, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani bisa dicapai dengan bekerja, sedangkan kebutuhan rohani didapat dengan belajar. Kedua kebutuhan tersebut memerlukan nilai ekonomi yang tinggi. Oleh karena itu tingginya nilai ekonomi akan berdampak pada status sosial, dan perubahan status sosial akan berpengaruh pada nilai etika kehidupan. Orang yang tidak pernah “cukup” dalam ekonomi adalah contoh nyata terjadinya penyelewengan-penyelewengan aktifitas. Dan orang yang “kurang” dalam ekonomi juga menjadikan rusaknya nilai etika dalam kehidupan, karena dalam kondisi seperti ini memungkinkan lahirnya tindak kekerasan dan kebrutalan.
“Orang yang tidak pernah cukup” dan “orang yang kurang” adalah kata kunci untuk merubah aktifitas sosial sesuai dengan nilai etika, yakni memfilter aktifitas dengan nilai-nilai luhur agama. Hal ini menjadi tanggung jawab setiap anggota masyarakat untuk selalu ber-”ta’awanu alal birri wattakwa” dalam kehidupan, dan juga sebagai penyeimbang hubungan sosial kemasyarakatan.

Orang yang tidak pernah cukup
Nilai-nilai kehidupan akan berjalan harmonis, tatkala semua tindakan anggota masyarakat tercover dalam aktifitas yang wajar. Kewajaran aktifitas dapat terlihat dari rasa “syukur” terhadap semua nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada manusia. Rasa syukur inilah yang membatasi kata “cukup” dalam aktifitas yang berlebihan.

Orang yang dalam hidupnya tidak pernah merasa cukup, maka berapapun atau apapun yang diterimanya akan selalu dirasakan kurang dan selalu saja berusaha mencari sesuatu yang lebih dari yang ia dapatkan. Dari sinilah berawalnya seseorang untuk melalukan sesuatu yang mengarah kepada hal negatif atau dengan kata lain akan menghalalkan segala cara.

Apalagi jika dalam dirinya tidak tertanam nilai-nilai agama yang kuat maka akalnya akan rapuh dari logika positif, tidak mengenal haramnya perbuatan yang dapat merugikan orang lain akibat kejahatan yang dilakukan, tindakan korupsi misalnya. Hal ini berdampak pada rusaknya hubungan interaksi sosial di masyarakat. Oleh karena itu “merasa cukup” dalam segala hal akan meredam kestabilan kehidupan terutama masalah ekonomi.

Orang yang kurang ekonominya
Orang yang kurang ekonominya dalam banyak hal “diklaim” selalu membuat permasalahan di masyarakat, misalnya mencuri atau tindak kekerasan lainnya. karena sering terjadi orang yang mencuri adalah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi hal ini jangan digeneralisir sebagai suatu perbendaharaan kegiatan menyimpang, bahwa pencurian “pasti” dilakukan oleh orang yang kurang mampu ekonominya. Banyak sebab penyakit tersebut timbul dimasyarakat, memang salah satunya adalah kurangnya faktor ekonomi.

Selain itu kurangnya ekonomi juga dapat melahirkan jiwa-jiwa kerdil yang selalu memotong kompas dalam kehidupan sehari-hari, yang pada akhirnya timbullah pencurian, perampokan dan sifat brutal lainnya. selain itu penegakkan hukum pun dirasa kurang maksimal dan tidak memihak kepada keadilan yang sebenarnya. Hal ini menjadikan sifat tersebut tumbuh subur sebagai realisasi aktifitas yang salah. Keadaan ini diperburuk dengan keadaan ekonomi negara yang kurang menguntungkan bagi mereka yang memang “kurang ekonominya” sejak awal. Naiknya harga-harga barang pokok, yang berimbas kepada naiknya nilai kehidupan secara tidak langsung juga membentuk mental negatif pada bangsa.

Sebab itulah pemerintah sebagai pemegang kebijakan mestinya memikirkan jalan keluar untuk masyarakat yang kurang ekonominya, paling tidak mengurangi beban kehidupan bukan malah menambah beban mereka.
Sebagai solusi dari pemikiran di atas adalah bahwa nilai-nilai keagaam merupakan jalan “sakti” untuk mencegah hal tersebut. Orang yang tidak pernah cukup dalam segala hal dan timbulnya aktifitas asusila lainnya merupakan cerminan dari tidak adanya “rasa syukur” terhadap nikmat Tuhan. Jika rasa syukur tertanam dalam diri setiap insan, maka segala pemberian tuhan akan diterima dengan lapang dada dan penuh nilai ibadah. Selain itu hubungannya dengan sesama anggota masyarakat pun akan terbentuk dengan nilai-nilai kebersamaan, tidak ada curiga mencurigai atau bahkan menghilangkan hak orang lain dalam dirinya. Kehidupan seperti inilah yang “mungkin” didambakan semua orang dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Al-Qur’an mulia telah banyak mendiskusikan balasan rasa syukur terhadap nikmat tuhan, salah satunya jika tidak menerima rasa syukur tersebut adalah azab yang pedih, yang diartikan dengan kehidupannya tidak tenang, selalu dikejar-kejar kesalahan, selalu mencurigai orang sekitar dan berbagai penyakit hati lainnya. oleh karena itu jalan yang termudah untuk menghilangkan sifat tersebut adalah dengan menjalankan perintah Tuhan secara benar dan meningggalkan larangan Tuhan secara benar pula. Selain itu hukuman dari aparat hukum juga turut andil dalam menghilangkan penyakit hati yang ada dimasyarakat.
Hukuman yang diberikan harus disesuaikan serta diseimbangkan dengan nilai kesalahan yang diperbuat. Jangan memberikan hukuman yang terkesan “sekedar” memberi hukuman misalnya kepada para korupsi yang jelas-jelas merampas hak orang banyak. Secara nalar orang akan takut (jera) apabila hukuman yang diberikan tidak sebanding dengan kesalahan yang dibuatnya. Artinya hukuman yang diberikan harus lebih besar dari nilai kesalahan yang diperbuatnya. Misalnya orang yang korupsi 7 miliar harus dihukum kurungan seumur hidup dan denda 10 milyar. “mungkin” hal ini akan mengurangi –kalau tidak menghilangkan– budaya korupsi yang telah beranak cucu. Selain itu tindak kekerasan yang terjadi di masyarakatpun kurang mendapat perhatian yang serius dalam hal tindakan dan hukuman. Hukuman yang diberikan masih berkisar denda dan kurungan yang merupakan warisan kolonial. Apakah tidak ada alternatif lain yang lebih menjerakan terhadap tindakan tersebut, misalnya hukum yang diajukan oleh Al-Qur’an seperti hukum qishash.

Menurut hemat kami, hukum yang diajukan Al-Qur’an lebih refresentatif di negara Indonesia melihat jumlah penduduk muslim lebih dominan.
Perlu diingat bahwa hukum dibuat untuk memberi rasa aman terhadap masyarakat, baik aman dalam menjalankan hak dan aman dalam menjalankan kewajibannya, bukan malah hukum memberikan perlindungan terhadap kesalahan. Begitupula para pelaksana hukum, dipekerjakan sebagai manifestasi keamanan masyarakat bukan malah menginjak-injak ketenteraman masyarakat.

KESIMPULAN
Sebagai kata akhir dapatlah disimpulkan bahwa kehidupan akan terasa indah jika masyarakat menjalankan semua tata aturan yang berlaku terutama tata aturan agama.
Masalah agama adalah masalah keyakinan yang tertanam dalam hati, orang yang tahu masalah agama bukan berarti orang yang bebas dari keinginan untuk melakukan penyelewengan.
Maka dari itu, tingkatkan keyakinan hati pada kebenaran yang hakiki. Dan tetaplah berpegang teguh pada nilai-nilai agama, terutama dalam hubungan manusia dengan manusia, sesungguhnya segala bentuk perubahan adalah dimulai dari dalam diri manusia itu sendiri.

*Dari berbagai sumber

4 Tanggapan

  1. haaah gak dong. apa sih dampak kehidupan sosial dan ekonomi

    Suka

  2. asw..trimakasih ya,,sangat bermanfaat untuk tugas saya

    Suka

  3. bagus tolong tambahin artikel htinya donk

    Suka

  4. Para komentator yg “kurang indah” dibaca, boleh saja berpendapat seperti itu. Hal ini menunjukan bahwa nilai etika memang sudah sangat kurang tuk di junjung tinggi, plus kebebasan pendapat yg kurang menghargai pendapat orang lain. Sekali lagi bahwa etika atau akhlak harus di junjung tinggi dimanapun kita berada, karena akhlak akan menentukan kemajuan bangsa itu sendiri. Trima kasih atas kunjungan anda dan sgala komentarnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: