Keberhasilan Pengajaran


KEBERHASILAN PENGAJARAN

A. Pengertian Keberhasilan Pengajaran
Keberhasilan adalah akhir dari sebuah proses yang dilakukan oleh seorang dalam upaya mencapai suatu tujuan secara maksimal dan terarah. Keberhasilan sebuah pengajaran bahasa tergantung kepada berbagai faktor yang menunjang diantaranya buku yang dipergunakan dan pendidik (guru) yang yang mengajarkannya.
Pengajaran sebenarnya sudah dimulai sejak Nabi Adam AS. Para ahli pendidikan telah mencoba merumuskan batasan pengertian tentang pengajaran, diantaranya seperti dikatakan Prof. Dr. Hasan Langgulung bahwa pengajaran adalah: “Pemindahan pengetahuan dari seseorang yang mempunyai pengetahuan kepada orang lain yang belum mengetahui.”
Dari terminologi di atas terdapat unsur-unsur kegiatan pengajaran yang meliputi:
1. Pengajaran adalah upaya pemindahan pengetahuan
2. Pemindahan pengetahuan dilakukan oleh seseorang yang mempunyai pengetahuan (pengajar) kepada orang lain yang belum mengetahui (pelajar) melalui suatu proses mengajar.
Pengatahuan yang dipindahkan dari dua sumber, yakni sumber Ilahi dan sumber Manusiawi. Kedua jenis pengetahuan saling melengkapi dan pada hakekatnya keduanya berasal dari Allah SWT melalui wahyunya. Adapun pengetahuan yang bersumber dari manusia ialah pengetahuan yang dipelajari manusia dari berbagai pengalaman pribadinya dalam kehidupan, juga dalam usahanya menelaah problem yang ada. HM. Arifin merumuskan pengertian pengajaran dengan:
“Suatu kegiatan menyampaikan bahan pelajaran kepada pelajar agar dapat menerima, menggapai, menguasai, mengembangkan bahan pelajaran itu. Mengajar mengandung tujuan agar pelajar dapat memperoleh pengetahuan yang kemudian dapat mengembangkan dengan pengembangan pengetahuan itu, pelajar mengalami perubahan tingkah laku. Bahan pelajaran yang disampaikan berproses melalui metode tertentu, sehingga dengan metode yang digunakan tujuan pengajaran dapat tercapai.”
Roestiyah NK menyatakan: “Mengajar adalah bimbingan kepada anak dalam proses belajar.”
Definisi di atas menunjukkan bahwa dalam proses belajar mengajar yang aktif adalah murid yang mengalami proses belajar, guru hanya sebagai pembimbing, penunjuk jalan dan pemberi motivasi. Teori mengajar modern memberikan kesempatan kepada siswa memupuk aktifitas belajar sendiri dimana sistem pembinaan belajar siswa tinggi. Teori belajar ini sangat menghormati perbedaan individu. Hal ini menyebabkan para siswa diberi kebebasan untuk belajar, sedangkan guru mengarahkan dan memberi rangsangan.
Islam mengajarkan bahwa dalam menyampaikam pelajaran seorang guru tidak mendorong siswanya untuk mempelajari sesuatu diluar kemampuannya. Proses belajar mengajar dalam Islam selalu memperhatikan dan menghormati harkat, martabat dan kebebasan berpikir, mengeluarkan pendapat dan menetapkan pendirian. Sehingga bagi siswa belajar merupakan hal yang menyenangkan dan sekaligus mendorong kepribadiannya berkembang secara optimal, sedangkan bagi guru proses mengajar merupakan kewajiban yang bernilai ibadah, yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT di akhirat nanti. Selain itu dalam mengajar juga harus dilihat relevansi antara yang diperlukan dengan bahan pelajaran yang disampaikan demi tercapainya tujuan pengajaran.

B. Ukuran Keberhasilan Pengajaran
Dalam proses belajar mengajar untuk mencapai sebuah keberhasilan yang optimal dapat kita lihat ukuran-ukuran sebuah pengajaran, yang tidak berdiri sendiri melainkan saling berhubungan satu sama lain, yaitu:
1. Motivasi
Seorang guru harus mampu menimbulkan motivasi siswa. Motivasi ini sebenarnya banyak dipergunakan dalam berbagai bidang dan situasi, tapi dalam uraian ini diarahkan bidang pendidikan khususnya bidang proses belajar mengajar. Menurut S. Nasution, MA bahwa motivasi murid adalah: “Menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat dilakukan.”
Dalam pemberian motivasi untuk menarik perhatian dan minat guru dapat menggunakan berbagai cara, seperti: cara belajar yang baik, alat peraga yang cukup, intonasi yang tepat dan humor, mungkin juga dengan mengemukakan contoh yang tepat, up to date dan lain-lain.
Motivasi sebagai suatu proses mengantarkan siswa kepada pengalaman yang memungkinkan mereka dapat belajar, Menurut metodik khusus Pengajaran Agama Islam, motivasi mempunyai fungsi.antara lain:
a. Memberi semangat dan mengaktifkan murid agar tetap berminat dan siaga,
b. Memusatkan perhatian anak pada tugas-tugas tertentu yang berhubungan dengan pencapaian belajar.
c. Membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan jangka panjang.

2. Aktifitas
Aktifitas dapat dilaksanakan antara lain sebagai berikut:
a. Membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang dapat merangsang keaktifan anak-anak berfikir sendiri,
b. Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengutarakan pengalaman-pengalamannya.
c. Memberikan tugas latihan, baik mengerjakan LKS maupun tugas lainnya.

3. Minat dan Perhatian
Setiap individu mempunyai kecenderungan fundamental untuk berhubungan dengan sesuatu yang ada di lingkungan. Apabila sesuatu itu memberikan kesenangan kepada dirinya, kemungkinan dia akan berminat terhadap sesuatu itu. Menurut Poejosoebroto minat adalah: “Suatu keadaan dimana seseorang mempunyai perhatian sesuatu dan disertai dengan keinginan untuk mengetahui dan mempelajari maupun membuktikan lebih lanjut.
Minat biasanya berhubungan dengan perhatian, agar pendidikan agama dapat berhasil dengan baik maka minat dan perhatian anak tidak boleh diabaikan. Untuk itu Poejosoebroto berpendapat bahwa guru harus mengusahakan:
a. Agar pelajaran dimasak sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap dengan penuh perhatian oleh anak.
b. Agar murid mempunyai minat pada pelajaran, pelajaran itu harus disajikan sesedapnya bagi mereka.
4. Praktek
Pada sekolah tradisional murid hanya mendengarkan ucapan guru. Mereka tidak mengetahui pengertian yang sebenarnya, sehingga sering menimbulkan verbalisme, yaitu hafal.
Ramayulis berpendapat bahwan kita dapat mengambil keuntungan dari praktek sebagai berikut:
a. Menghemat waktu belajar
b. Menambah kemantapan sesuatu yang telah dipelajari
c. Membantu anak yang lemah dalam berfikir.
Berkenaan dengan alat praktek yang dipergunakan oleh guru disekolah dapat dibedakan atas:
a. Alat peraga langsung
Yang dimaksud adalah bendanya, seperti bila kita mengajarkan tentang kucing, maka sebagian alat peraga langsung kucing itu sendiri yang dibawa ke sekolah.
b. Alat peraga tidak langsung
1) Model, apabila kita tidak mungkin membawa benda yang sebenarnya ke sekolah, maka guru dapat membuat model dari benda itu, misalnya: guru mengajarkan tentang lalu lintas dalam suatu kota, sebagai alat peraga guru dapat membuat peta dari kota tersebut.
2) Gambar, yang dapat dibedakan lagi atas:
– Gambar mati seperti gambar biasa
– Gambar yang diproyeksikan seperti slide, proyektor, video, film, dan sebagainya.
Untuk alat pegara di atas, dalam proses belajar mengajar guru di sekolah dapat melakukannya dengan cara: Ceramah sambil memperlihatkan bendanya dan Demonstrasi.
Oleh karena itu guru harus mau belajar dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan setiap zaman. Dia tidak boleh ragu terhadap kemajuan yang telah dicapai, karena sebagai alat peraga akan tercipta dan diciptakan dari ilmu yang baru.

5. Individual
Adanya perbedaan individual menunjukkan adanya perbedaan kondisi belajar setiap orang, agar individual dapat berkembang secara optimal dalam proses belajar diperlukan orientasi yang paralel dengan kondisi yang dimilinya dituntut penghargaan akan individualitas. Dalam pengajaran beberapa perbedaan yang harus diperhatikan, yakni:
a. Perbedaan umur
b. Perbedaan intelegensi
c. Perbedaan kesanggupan dan kecepatan
d. Perbedaan jenis kelamin
Perbedaan individual tersebut harus mendapat perhatian guru agar berhasil dalam pemberian pelajaran kepada siswa. Untuk mengetahui itu guru harus mengenal perbedaan yangada pada siswa, antara lain dengan cara:
a. Tes
b. Mungunjungi rumah orang tua siswa
c. Sosiogram
d. Case study
Dengan mengenal siswa guru dapat menyesuaikan bahan pelajaran dengan kemampuan siswa karena mereka bukanlah benda mati yang bisa dibentuk menurut kehendak hati kita. Mereka bukan kawat yang mudah dibengkok-bengkokan.

6. Pengulangan
Pengajaran memerlukan banyak pengulangan, pengulangan bahan yang telah dipelajari akan memperkuat hasil belajar. Dalam mengulang pelajaran ada dua prinsip yang harus diperhatikan baik oleh guru maupun oleh siswa, yaitu:
a. Materi yang diulang itu dipahami dengan baik dan benar. Mengulang materi yang dipahami lebih mudah ketimbang mengulang yang tidak dipahami, karena menimbulkan verbalisme.
b. Dalam melakukan pengulangan sebaiknya tidak terlalu lama. Lebih baik frekuensi mengulang banyak tetapi waktunya sedikit daripada frekuensinya hanya sekali.

7. Keteladanan
Semenjak awal kehidupan manusia, banyak sekali belajar lewat peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang-orang sekitarnya, khususnya dari kedua orang tuanya. Al-Quran telah memberikan contoh bagaimana manusia belajar lewat meniru atau duplikasi. Kisah tentang Qabil mengubur saudaranya yang dibunuhnya diajar oelh Allah SWT melalui seekor burung gagak, seperti dalam surat Al-Maidah ayat 31:
          
(سورة المائدة: 31)
”Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya”.

Kecenderungan manusia untuk meniru belajar lewat peniruan menyebabkan keteladanan menjadi sangat penting dalam proses belajar mengajar. Rasulullah SAW adalah suri tauladan yang baik bagi umat manusia, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21:
                 . (الأحذاب: 21)
“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Menurut Edi Suardi, ketauladan itu ada dua macam yaitu:
a. Sengaja berbuat untuk secara sadar ditiru oleh si terdidik
b. Berprilaku sesuai dengan nilai dan norma yang akan kita tanamkan pada terdidik sehingga tanpa sengaja menjadi tauladan bagi terdidik.

8. Pembiasaan
Pembiasaan merupakan upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan anak. Hasil dari pembiasaan yang dilakukan oleh pendidik adalah terciptanya suatu kebiasaan bagi anak didik. Menurut Edi Suardi, kebiasaan adalah:
”Suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan terlebih dahulu dan berlaku begitu saja tanpa dipikirkan terlebih dahulu”.
Pembiasaan dalam bahasa hendaknya dimulai sejak dini mungkin, sagaimana dijelaskan pada sebuah syair Arab sebagai berikut:
وَلَوْ فَلَقَ الْقَلْبَ الْمُعَلِّمُ فِى الصِّبَا, لاَ اُلفِيَ فِيْهِ الْعِلْمُ كَاالنَّقْشِ فِى الْحَجَرِ
”Apabila mengajar membuka hati pada masa kecil, maka sungguh akan ditemui yang tersimpan di dalamnya laksana ukiran di batu (yang selalu berbekas)”.

Kalau ditinjau dari praktisnya, maka belajar sewaktu kecil itu dapat cepat dalam menghapal mata pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Sebaliknya jika sudah tumbuh dewasa maka akan sulit dalam menghapal pelajaran yang diberikan oleh guru, untuk itu pembelajaran sejak dini sangat efektif untuk meningkatkan pemahaman pelajaran yang diberikan oleh guru terutama bidang studi Bahasa Arab yang menjadi prioritas bahasan penulisan pada skripsi ini.

C. Norma Nilai Keberhasilan
Tercapainya internalisasi nilai-nilai, norma-norma keagamaan yang fungsional secara moral untuk mengembangkan keseluruhan sistem sosial budaya. Disadari bahwa pelaksanaan proses belajar mengajar oleh para pendidik masih lebih banyak berorientasi pada sisi pengajaran (kognitif) demi pencapaian kurikulum, sehingga landasan paedagogisnya sering terabaikan karena perlu usaha memotivasi dan mendukung pembentukan pribadi yang kuat, landasan dimaksud oleh A. Malik Fajar sebagai berikut:
1. Landasan Motivasional, yaitu memupuk sifat positif peserta didik untuk menerima ajaran agamanya dan sekaligus bertanggung jawab terhadap pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari
2. Landasan Etik, yaitu tertanamnya norma-norma keagamaan peserta didik sehingga perbuatannya selalu diacu oleh isi, jiwa dan semangat akhlakul karimah.
3. Landasan Moral, yaitu tersusunnya tata nilai (volume sistem) dalam peserta didik yang bersumber dari ajaran agamanya sehingga memiliki daya tahan dalam menghadapi setiap tantangan dan pembaruan.

Landasan yang dikemukakan di atas sangat tergantung pada tekad dan semangat serta kerja keras para pendidik itu sendiri dalam memberikan motivasi pada para anak didik agar dapat mencapai tujuan sesuai yang dikehendaki secara optimal pendidikan juga dituntut untuk mengembangkan etik, minat dan bakat anak agar dapat mengaktualisasikan tatanan norma-norma keagamaan sehingga perbuatannya selalu diacu oleh isi jiwa dan semangat akhlakul karimah, pendidik juga dituntut untuk menanamkan moral pada peserta didik agar dapat tertatanya nilai dalam diri peserta didik yang bersumber dari ajaran agamanya sehingga anak memiliki daya tahan dalam menghadapi setiap tantangan dan pembaharuan.
Karena itu hanya dengan semangat dan tekad yang tinggi serta kerja keras sajalah akan dapat menunjang serta mendorong terciptanya hasil dengan baik lagi sempurna, tentunya harus dilandasi atas dasar kemampuan-kemampuan dasar (basic abilities) sebagai pekerja profesional, atau kata lain pendidik yang memiliki kompetensi personal, propesional dan sosial yang terakumulasi dalam kompetensi religius yang hanif. Sehingga secara terpadu mampu mewujudkan sebuah tujuan pengajaran.

Iklan

4 Tanggapan

  1. Betul bu, karena yang namanya keberhasilan pasti butuh kerja keras dan ketekunan

    Suka

  2. Menurut saya, semua orang bisa mencapai suatu keberhasilan jika ia mempunyai niat, usaha dan doa . keberhasilan itu tidaklah mudah untuk diraih tetapi semua orang ingin berhasil dan sukses .
    ibarat mengejer seekor kupu-kupu yang sangat sulit untuk di raih .

    Suka

  3. lengkap banget

    Suka

  4. luar biasa uraiannya, Pak! sangan panjang dan komplit.
    Namun saya di sini hanya ingin menggarisbawahi tentang perbedaan indivual siswa.
    Intinya saya sepakat dengan adanya penghargaan guru terhadap perbedaan individual siswa. Penghargaan itulah yang terkadang tidak diperoleh oleh siswa sehingga terjadilah yang disebut dengan penyeragaman. Penyeragaman terjadi disemua hal yang terkait dengan pendidikan. Secara kasat mata bisa dilihat dari pakaian yang harus seragam, sedangkan yang tidak kasat mata bisa berupa kurikulum dan teknik yang digunakan untuk mengajar.
    Padahal jika guru menyadari mengenai sifat dasar manusia sebagai individu yang unik maka penghargaan atas keunikan siswa itulah yang harus digunakan sebagai dasar pengajaran.

    Salam Istimewa!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: