Mudah Membentuk Moral Peserta Didik


“MUNGKIN” CARA MUDAH 

MEMBENTUK MORAL PESERTA DIDIK

 

Membentuk Kebiasaan

Tidak dapat dipungkiri betapa pentingnya pendekatan agama dalam rangka membangun manusia yang bermoral. Tidak dapat dibayangkan membangun manusia bermoral tanpa agama, sebab pendekatan nalar tidaklah cukup. Kenyataan membuktikan bahwa dalam masyarakat yang kurang mengindahkan agama, perkembangan manusianya pincang. Maka dari itu, sebuah lembaga pendidikan Islam (pesantren) dalam mendidik para peserta didik-peserta didiknya tidak hanya melalui pendekatan intelektual tetapi juga melalui pendekatan emosional dan spiritual, (IQ, EQ dan SQ). Untuk membentuk kepribadian yang bermoral tersebut diperlukan suatu tahapan diantaranya membentuk kebiasaan.

Kebiasaan memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam kehidupan manusia karena dalam aktualisasi perannya tidak begitu menyita tenaga manusia. Kebiasaan hanya bisa dilakukan dengan cara memberikan latihan-latihan secar terus menerus sehingga menjadi terbiasa dan menjadi melekat dalam diri mereka dan dengan spontan mereka melakukan kegiatan-kegiatan tersebut enteng tanpa kehilangan banyak tenaga dan tanpa menemukan banyak kesulitan.

Tanggung jawab yang diberikan oleh seorang ustadz kepada peserta didik dapat menumbuhkan rasa percaya diri (confidence) mereka, menjadikan mereka jauh dari perilaku negative, mengikut sertakan mereka dalam kegiatan.

  • Tujuan pembentukan kebiasaan

Tujuan pembentukan kebiasaan disini adalah penanaman kecakapan-kecakapan berbuat dan mengucapkan sesuatu (kalimah-kalimah thayyibah) agar cara-cara yang tepat dapat dikuasai oleh peserta didik.

Jadi kebiasaan itu bertujuan merubah kebiasaan negative dengan merubahnya menjadi kebiasaan yang positif dengan cara menghilangkan kebiasaan negative sedikit demi sedikit namun dilakukan terus-menerus.

  • Cara atau usaha untuk membentuk kebiasaan

Cara yang dilakukan dalam rangka membentuk moralitas peserta didik dengan cara mengontrol gerak-gerik mereka dan membiasakan peserta didik dengan amalan-amalan yang dikerjakan dan yang diucapkan sesuai dengan tuntutan Islam.

Bahwa tujuan utama dari pembentukan kebiasaan adalah penanaman moral yang baik pada diri peserta didik. Itulah salah satu kontribusi pendidikan Islam dalam pembentukan moral peserta didik.

Manusia ditakdirkan untuk mengenal nilai-nilai dan untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk, maka dalam pembentukan kebiasaan ini seorang ustadz (guru) telah menentukan baik dan buruk menurut tarafnya. Untuk memudahkan pelaksanaannya maka pembentukan kebiasaan tersebut memerlukan alat dalam pelaksanaannya. Alat-alat tersebut adalah:

  • Teladan

Teladan ini merupakan alat pendidikan langsung, dimana seorang guru (ustadz) diharuskan untuk memberikan suri teladan yang baik terhadap anak didiknya. Karena prilaku seorang ustadz akan menjadi sorotan bagi peserta didik dan sedikit banyak akan membekas dalam pribadi mereka. Maka dari itu teladan seorang ustadz dalam dunia pendidikan Islam (pesantren) sangatlah urgen, bagaimana ia memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya. Dalam hal ini cukuplah seorang ustadz mempengaruhi peserta didik dengan perbuatan yang baik, maka dengan sendirinya peserta didik terbiasa dengan tontonan yang baik dalam pribadi guru maka ia secara otomatis akan meniru sifat-sifat terpuji tersebut.

  • Anjuran dan perintah

Anjuran dan perintah berbeda dengan teladan, karena dalam anjuran dan perintah anak didik hanya mendengarkan apa yang telah diucapkan oleh seorang guru, sedangkan teladan anak didik hanya melihat apa yang telah dilakukan oleh guru.

Anjuran dan perintah merupakan alat pembentuk disiplin secara positif, karena disiplin sangat perlu sekali dalam pembentukan moral pada diri peserta didik. Dengan membiasakan hidup disiplin, maka tidak menutup kemungkinan peserta didik akan melakukan pelanggaran disiplin yang telah ditentukan oleh lembaga.

Jadi anjuran ini merupakan saran untuk melakukan sesuatu yang baik dan berguna, seperti meningkatkan kualitas belajar, penggunaan waktu yang efektif dan efisien dan bagaimana bersikap kepada teman, guru dan orang lain. Sedangkan perintah sifatnya lebih keras, yakni suatu kewajiban untuk melaksanakan sesuatu yang baik dan berguna. Perintah digunakan sebagai alat pendidikan untuk membentuk kesadaran dan pengertian menjalani disiplin yang telah ditetapkan, sehingga akan tumbuh berangsur-angsur rasa senang melakukannya tanpa suruhan dari orang lain, tetapi termotivitasi dari pribadinya dengan rasa penuh tanggung jawab.

  • Latihan

Latihan sebagai proses pembiasaan pada pribadi peserta didik, maka dari itu setiap peserta didik dibiasakan dengan latihan-latihan positif, seperti shalat berjemaah, mengaji al-Qur’an, puasa sunat, dengan latihan-latihan tersebut maka dalam melakukan pun tidak akan merasa kaku lagi, bahkan akan menambah kesempurnaan dalam melaksanakannya, karena mengerti apa yang diucapkannya dan apa yang diperbuatnya, dan pada akhirnya latihan-latihan tersebut akan mempengaruhi sikap dan prilaku peserta didik, yang akan menjadikan peserta didik lebih bermoral.

  • Kompetisi dan hadiah

Kompetisi dan hadiah juga merupakan salah satu alat untuk membentuk kebiasaan positif. Kompetisi yang dimaksud adalah persaingan sehat yang ada hubungannya dengan pendidikan dan mengarah terhadap terbentuknya moral positif. Misalnya diadakan perlombaan, baik di bidang seni, olahraga dan keagamaan serta keintektualan, khususnya pada hari-hari besar Islam, dengan wujud perlombaan tersebut maka setiap peserta didik termotivasi untuk memenangkan lomba tersebut, baik mewakili pribadinya atau mewakili kelompok, dengan banyak belajar sesuai dengan lomba yang diikutinya.

Setiap lomba yang diadakan tentu ada hadiahnya. Hadiah tersebut memicu peserta didik untuk menjadi guru dari setiap lomba yang dikompetisikan dan berusaha untuk meraih hadiah tersebut, maka terjadi kompetisi yang ketat antar peserta didik.

  • Koreksi dan pengawasan

Mengingat manusia tidak ada yang sempurna, maka tidak ada yang luput dari perbuatan khilaf dan salah. Demikian juga peserta didik, tidak luput dari khilaf dan salah, ada sebagian mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran dari ketentuan. Dengan demikian sebelum kesalahan berlanjut dan menjadi suatu kebiasaan, di sini diperlukan koreksi dan pengawasan, dengan adanya dua komponen tersebut mereka akan cepat untuk menyadari kesalahan yang diperbuatnya tersebut, dan berhati-hati serta selektif dalam bertindak.

  • Larangan dan hukuman

Larangan itu sebagai alat pendidikan untuk menghindari peserta didik dari suatu perbuatan buruk dan amoral, larangan ini berlawanan dengan perintah. Perintah mengandung kewajiban untuk dilaksanakan, sedangkan larangan mengandung kewajiban untuk ditinggalkan. Sekolah mestinya membuat larangan-larangan yang harus dipatuhi oleh setiap peserta didik, karena jikalau peserta didik melakukan larangan tersebut maka ia dikenakan hukuman edukatif. Hukuman tersebut merupakan usaha untuk menyadarkan peserta didik melakukan pelanggaran, dan supaya jera dan tidak melakukan lagi. Hukuman itu sendiri merupakan alternative terakhir apabila dengan segala cara apapun tidak bisa, maka hukuman boleh dilaksanakan.

 

Membentuk Minat dan Motivasi

Sejak manusia dilahirkan sudah mempunyan kecenderungan atau minat, dari kecenderungan dan minat tersebutlah akan terjadi evaluasi dalam diri manusia yang berupa bakat dan skill. Karena sifat nature dari manusia adalah selalu ingin berkembang.

Adalah OSIS sebuah organisasi kesiswaan. Organisasi tersebut menangani seluruh aktifitas peserta didik baik yang bersifat kognitif maupun afektif. Setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi tersebut pastilah ada unsur-unsur edukatifnya. Sehingga mereka dalam bermain atau berkreasi tidaklah sekedar mengandalkan kemahiran belaka tetapi juga membutuhkan kognitifitas. Pada intinya adalah di mana kegiatan tersebut akan banyak mendidik mereka untuk berinteraksi yang baik dengan sesama, baik sebagai anggota organisasi atau sebagai anggota club.

Pengembangan kreatifitas dan skill akan lebih efektif kalau dikoordinir oleh mereka sendiri sebagai peserta didik senior di bawah bimbingan guru. Karena mereka lebih mengetahui keadaan atau perihal masing-masing, dikarenakan mereka yang berinteraksi langsung dengan adik-adik mereka. Maka dari itu OSIS inilah yang menjadi ujung tombak dalam setiap kegiatan, terutama yang menyangkut kegiatan ekstra kurikuler.

Sedang seorang guru dalam hal ini hanyalah bersifat sebagai pembimbing. Mereka memantau dari belakang jalannya organisasi tersebut dan seluruh kegiatan yang berjalan, di samping itu mereka memberikan motivasi-motivasi positif atau pengarahan kepada pengurus untuk bisa mengurs roda organisasi yang mereka tangani sehingga kegiatan-kegiatan peserta didik seluruhnya akan berjalan dengan lancer.

Dengan terpogramnya seluruh aktifitas peserta didik ini maka seluruh waktu peserta didik tersebut tidak akan terbuang dengan sia-sia. Sehingga dengan demikian mereka bisa berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan yang telah diplaning.

Membentuk Kepribadian yang Bermoral

Dalam membentuk kepribadian peserta didik yang bermoral harus sering dilaksanakan pengajian Al-Qur’an dan tafsirnya, dan pengajian hadits-hadits nabawi. Al-Qur’an dan tafsir yang dibahas adalah tamsil-tamsil moral para rasul dan nabi serta orang-orang shaleh. Sedangkan hadits-hadits yang disampaikan hadits-hadits nabi yang mengandung pesan moral. Dengan banyak mengacu kepada al-Qur’an dan sunah tersebut diatas sehubungan moralitas, maka peserta didik akan semakin yakin bahwa sikap moral yang baik/akhlak karimah sangatlah urgen dalam kehidupan mereka. Sehingga pada nantinya dengan banyak mengetahui dalil-dalil dan tamsil-tamsil dari al-Qur’an, hadits dan beberapa referensi dari kitab-kitab klasik akan mempengaruhi sikap mereka dalam berinteraksi dengan masyarakatnya.

Selain itu ceramah-ceramah juga harus sering dilakukan oleh guru yang berwenang (dalam hal ini guru agama, atau guru yang mengerti banyak tentang agama). Ceramah-ceramah itu akan membiasakan telinga para peserta didik mendengarkan nasehat-nasehat atau wejangan-wejangan positif. Dengan banyak mendangarkan ceramah tersebut di atas maka sedikit banyak akan mempengaruhi sikap para peserta didik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: