EFEKTIFITAS PEMBINAAN KARAKTER


EFEKTIFITAS PEMBINAAN KARAKTER

Pengertian Karakter

Karakter sangat penting yang menentukan kualitas pribadi seseorang. Dengan karakter yang dimilikinya seseorang dapat berinteraksi dan membangun hubungan sosial yang harmonis dengan sasamanya dan berdampak pada peningkatan serta keberhasilan dalam kehidupannya. Karakter yang membuat seseorang dapat diterima atau ditolak dalam lingkungan sosialnya. Karakter yang baik atau positif membuat dirinya memiliki kemampuan sosial yang ditunjukkan melalui suatu interaksi dan membuat dirinya mudah bergaul, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan diterima oleh lingkungannya. Keadaan yang demikian akan membuat dirinya memiliki “keluwesan” dalam berkomunikasi dan membangun hubungan, sehingga berdampak pada kemajuan dirinya.

Foerster dalam Koesoema menyatakan bahwa karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.[1] Karakter yang dimiliki seseorang menujukkan kualitas dirinya. Karakter positif akan membuat dirinya memiliki daya tahan dalam menghadapi segala sesuatu, tidak mudah menyerah, memiliki tanggungjawab yang tinggi sehingga membuat dirinya dapat dipercaya dan dihandalkan.

Hill menyatakan bahwaCharacter determines someone’s private thoughts and someone’s actions done. Good character is the inward motivation to do what is right, according to the highest standard of behaviour, in every situation”.[2] Karakter menentukan pribadinya sendiri dan tingkah lakunya. Karakter yang baik  merupakan motivasi dalam mendasari seseorang melakukan apa yang benar, dengan mengacu pada standar tingkah laku yang tinggi di setiap situasi. Karakter seseorang tercermin dari tingkah lakunya. Seseorang dapat dikatakan memiliiki karakter yang baik apabila dalam dirinya menujukkan tingkah laku sesuai dengan standar tinggi yang ditetapkan oleh norma-norma tertentu (norma agama dan masyarakat) dalam setiap situasi.

Tomatala menyatakan bahwa karakter merupakan hakikat, sifat, dan ekspresi dari kepribadian seseorang yang dinyatakan melalui pembicaraan dan tingkah laku dalam lingkungan atau konteks di mana ia berada.[3] Karakter seseorang pada dasarnya ditampilkan dari setiap tindakan atau perbuatannya. Apa yang dilakukannya mencerminkan karakternya. Karakter berkembang melalui kebiasaan, dan perubahan-perubahan karakter dapat terjadi dengan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru. Oleh karena itu, apabila kebiasaan itu sesuatu yang buruk, maka akan mengkristal dalam dirinya menjadi suatu karakter yang buruk pula. Sebaliknya apabila kebiasaan-kebiasaan baru yang dikembangkan dalam dirinya dan kebiasaan itu merupakan kebiasaan yang baik, maka kebiasaan tersebut akan menjadi karakter yang baik.

Karakter kadangkala diiistilahkan dengan watak, tabiat, perangai atau akhlak. Karakter merupakan keakuan rohaniah yang nampak dalam keseluruhan sikap dan perilaku.  Akhlak menurut istilah agama berarti sikap yang digerakkan oleh jiwa yang menimbulkan tindakan dan perbuatan manusia, baik terhadap Tuhan, terhadap sesama manusia, terhadap dirinya sendiri ataupun terhadap makhluk lainnya, sesuai dengan kitab suci. Karakter atau akhlak dipengaruhi bakat, atau potensi dalam diri dan lingkungan. Karakter dapat berubah akibat pengaruh lingkungan. Oleh karena itu perlu usaha membangun karakter dan menjaganya agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang menyesatkan dan menjerumuskan.[4]

Menurut Al-Hasyimi bahwa ahklak sangat penting yang akan membawa seseorang kepada akhirat, seperti firman Allah SWT sebagai berikut:

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat” (Shaad:46).[5]

Selanjutnya dinyatakan bahwa mengingat akhirat akan membuat seseorang dapat menahan hawa nafsunya. Mengingat akhirat merupakan perbuatan yang membawa seseorang memiliki akhlak mulia, yaitu akan menurunkan sifat-sifat seperti kejujuran, amanah, pemaaf, dan bekerja keras.[6] Pernyataan ini menunjukkan bahwa apabila seseorang menyadari akan kehidupan setelah kematian, yaitu kehidupan di akhirat akan membuat dirinya berusaha menahan hawa nafsu yang buruk dan mengembangkan akhlak mulia. Akhlak mulia ini yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap dan perbuatannya ketika berinteraksi dengan orang lain.

Khalid menyatakan bahwa akhlak mulia merupakan pilar utama terjalinnya hubungan yang harmonis dengan sesama. Tidak ada rahmat di dalam dunia ini kecuali dengan akhlak mulia. Akhlak mulia ini yang menjadikan seseorang hidup saling menyayangi, tidak ada lagi kebencian dan iri hati, sehingga rahmat Allah SWT, diturunkan kepada dirinya.[7] Dengan memiliki akhlak mulia akan membuat seseorang memiliki hubungan yang harmonis dengan orang lain, baik dengan anggota keluarga maupun dengan orang-orang yang ada di lingkungannya. Akhlak mulia membuat seseorang hidup saling menyayangi sehingga rahmat Allah akan diturunkan kepada dirinya.

Karakter atau akhlak sangat penting dalam kehidupan siswa. Dengan karakter mulia atau positif akan membuat dirinya memiliki hubungan yang harmonis dengan orangtua, siswa yang lain, guru, dan lingkungannya. Hubungan yang tercipta secara harmonis akan membuat iklim pergaulan menjadi kondusif. Dalam lingkungan sekolah, karakter mulia membuat dirinya memiliki kedekatan hubungan dan keharmonisan dengan siswa dan guru, saling menyayangi. Hubungan ini membuat iklim sekolah dan pembelajaran menjadi kondusif. Keadaan ini membuat guru dapat menggerakkan dan memotivasi belajar siswa sehingga yang berdampak pada peningkatan hasil belajarnya.

Pengertian Efektifitas Pembinaan Karakter

Efektifitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai suatu keberhasilan dalam suatu usaha atau tindakan tertentu.[8] Efektifitas selalu dikaitkan dengan hasil yang sesuai dengan sasaran yang telah direncanakan. Suatu usaha dapat dikatakan efektif apabila dapat menunjukkan suatu keberhasilan atau telah mencapai tujuan yang telah direncanakan. Dengan demikian, efektifitas dapat diartikan sebagai keberhasilan yang dicapai dari suatu tindakan atau usaha dalam kegiatan tertentu. Pembinaan karakter dapat dikatakan efektif apabila hasil yang dicapai dalam kegiatan tersebut sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Secara sederhana, ukuran dari keefektifan dari pembinaan karakter adalah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan dari kegiatan tersebut.

Pembinaan karakter sebenarnya dimulai dari keluarga. Apabila seorang anak mendapatkan pembinaan karakter yang intens akan membuat dirinya memiliki karakter yang positif dan yang akan berkembang dan mengakar dalam dirinya. Namun, dalam kenyataannya banyak orang tua yang lebih mementingkan kecerdasan otak daripada pembinaan karakter. Menurut Goleman dalam Williams dan Megawangi bahwa banyak orang tua yang mengalami kegagalan dalam mendidik karakter anak-anaknya yang mungkin disebabkan karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Meskipun demikian, hal ini masih dapat diperbaiki dengan memberikan pembinaan karakter di sekolah.[9]

Pembinaan karakter di sekolah sangat diperlukan dalam mengembangkan karakter positif sehingga siswa dapat bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan norma-norma, etika dan kesusilaan yang ada dalam masyarakat. Melalui pembinaan karakter di sekolah, siswa dibina, dibentuk, diarahkan dan dibimbing untuk memiliki karakter yang baik sehingga dirinya dapat menunjukkan sikap atau perilaku yang baik ketika berkomunikasi dengan orang lain dan hidup dalam suatu komunitas.

Karekter seseorang terbentuk dimulai sejak dini melalui genetika. Meskipun demikian karakter tersebut dapat mengalami perubahan ketika dirinya berinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan pergaulannya. Lingkungan yang menunjukkan perilaku yang negatif akan membentuk dan mengubah karakternya menjadi negatif pula. Meskipun demikian, karakter bukanlah sesuatu yang sifatnya menetap dan tidak dapat diubah. Hal ini dikarenakan karakter akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan seseorang. Apabila dalam perkembangannya, karakter yang negatif tidak mendapatkan pembinaan dan pendidikan, maka akan terbentuk karakter yang negatif tersebut dan dapat mengakar dalam diri seseorang, sehingga sangat sukar untuk mengubahnya. Walau demikian, perubahan tersebut tetap memiliki peluang, ketika seseorang memiliki kesadaran dan keinginan untuk mengalami perubahan atau membuka dirinya, menerima pembinaan dan adanya usaha positif yang dilakukannya.

Menurut Chrisiana bahwa pembinaan karakter mengajarkan seseorang suatu kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantunya untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara serta membantunya untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.[10] Pembinaan karakter akan menumbuhkan sikap tanggungjawab baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Melalui pembinaan karakter akan terbentuk suatu sikap dan tingkahlaku positif dan membuat siswa dapat hidup harmonis dengan lingkungannya. Karakter yang baik akan menjadikan siswa memiliki tanggungjawab dalam belajar dan menujukkan sikap peduli terhadap dirinya dan orang disekitarnya yang ditunjukkan melalui keseriusannya dalam belajar. Keadaan yang demikian akan membuatnya mengalami keberhasilan dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari.

Pengukuran Efektifitas Pembinaan Karakter

Menurut Foerster yang dikutip Koesoema bahwa terdapat empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. 1) Keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. 2) Koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. 3) Otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. 4) Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.[11]

Lickona yang dikutip Williams dan Megawangi menyatakan bahwa pembinaan karakter merupakan pembinaan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Tanpa ketiga aspek ini, maka pembinaan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis serta berkelanjutan.[12] Dalam pembinaan karakter siswa bukan hanya diberikan sejumlah materi tentang karekter yang baik saja, melainkan juga bagimana mereka mengidentifikasi, merasakan dan menilai karakternya. Apabila siswa merasakan bahwa karakternya selama ini kurang baik atau negatif, maka dirinya harus melakukan tindakan untuk mengubah dan memiliki karakter yang positif. Pembinaan karakter bukan hanya sekedar pentransferan dalam ranah kognitif, melainkan yang harus diaplikasikan siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan sekolah, tempat tinggal maupun dalam masyarakat luas.

Dalam The Six Pillars of Character yang dikutip Chrisiana bahwa terdapat enam jenis karakter yang harus dicapai dalam kegiatan pembinaan atau pendidikan karakter, yang meliputi:

  • Trustworthiness, bentuk karakter yang membuat seseorang menjadi: berintegritas, jujur, dan loyal
  • Fairness, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki pemikiran terbuka serta tidak suka memanfaatkan orang lain.
  • Caring, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap orang lain maupun kondisi sosial lingkungan sekitar.
  • Respect, bentuk karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain.
  • Citizenship, bentuk karakter yang membuat seseorang sadar hukum dan peraturan serta peduli terhadap lingkungan alam.
  • Responsibility, bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin, dan selalu melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin.[13]

Akhlak yang dipraktekkan oleh Rasulullah SAW bersumber dari Al-Qur’an. Akhlak inilah yang membentuk karakternya dan berpengaruh besar dalam kehidupan sosialnya. Akhlak tersebut meliputi rendah hati, perkataan yang baik dan menghargai orang lain, kasih sayang dan murah hati, tidak mudah marah, lemah lembut dan pemaaf, jujur, disiplin, bertanggungjawab, dapat dipercaya.

Menurut Al-Hasyimi bahwa Allah SWT, menegaskan bahwa diri-Nya akan menjauhkan rahmat dan tanda-tanda kekuasaan-Nya dari orang-orang yang sombong dan tidak memiliki sifat rendah hati.[14] Allah berfirman bahwa:

Artinya :  “Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar . . . .” (al-A’raaf: 146)

Islam mengajarkan agar setiap mukmin memiliki akhlak yang mulia (al-akhlak al-karimah) dan menjauhkan diri dari akhlak tercela (al-akhlak al-madzmumah). Dari antara akhlak mulia yang perlu melekat dalam dirinya adalah tawadhu.[15] Rasulullah SAW memiliki sifat rendah hati dan perilaku yang sopan serta tidak sombong. Rendah hati inilah yang membuat dirinya bersikap ramah terhadap keluarganya. Kesombongan sangat dibenci oleh Allah SWT dan yang akan menjerusmuskan seseorang kepada sikap-sikap negatif lainnya, seperti iri hati, benci, pemarah, egois dan ingin menguasai sesuatu yang bukan menjadi haknya. Al-Qur’an malarang seseorang bersikap sombong dan sangat mengajurkan untuk memiliki sikap rendah hati.[16] Allah SWT berfirman:

Artinya : “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. Semua itu kejahatannya sangat dibenci di sisi Tuhanmu.”(al-Israa: 37-38)

Allah SWT juga berfirman sebagai berikut.

Artinya :  “Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), dan mereka adalah orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong.” (an-Nahl: 22-23)

Al-Quran juga mengecam orang-orang yang sombong dan berbuat dengan sewenang-wenang terhadap orang lain, sebagai mana firman-NYA :

Artinya : “Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan berlaku sewenang-wenang.” (al-Mu’min: 35)

 

Menurut Ferry at.al bahwa dengan kerendahan hati, seseorang akan mampu merendahkan diri di hadapan Allah SWT. Merendahkan diri berarti meleburkan ego karena menyadari bahwa dirinya tidak lebih dari debu yang tidak berharga sama sekali di hadapan Allah Yang Maha Besar dan Maha Sempurna. Kerendahan hati yang tertanam di dalam hati, di mana terdapat cahaya ilahi yang akan membuatnya selalu merasa rendah di hadapan Allah. Dirinya akan selalu merasa bahwa apa yang dimiliki merupakan karunia Allah dan dirinya hanyalah diberikan amanah untuk menjaga serta memanfaatkannya.[17]

Melalui pembinaan karakter, seorang siswa diberikan pelajaran dan dibimbing untuk megalami perubahan dan memiliki sikap rendah hati. Kegiatan ini yang akan membuat siswa menyadari pentingnya sikap rendah hati dan membuang kesombongan dan kebanggaan dirinya selama ini. Pembinaan karakter akan membuat siswa menyadari bahwa kelebihan atau keunggulan, potensi, dan bakat yang ada dalam dirinya semuanya hanyalah anugerah dari Allah SWT, sehingga tidak ada alasan untuk membanggakan dan menyombongkan dirinya. Allah SWT menghendaki orang-orang yang dikasihinya memiliki sikap rendah hati karena akan mendatangkan rahmat.

Pembinaan karakter bertujuan agar siswa dapat memiliki kasih sayang. Khalid menyatakan bahwa kasih sayang tidak hanya cukup dimengerti dan diketahui secara maknawiyah, melainkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang mampu mewujudkan kasih sayang dalm kehidupan sehari-hari, Insya Allah kelak di hari kiamat akan mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT. Berkaitan dengan kasih sayang Rasulullah SAW bersabda bahwa “Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hamba-Nya yang penuh kasih sayang.”[18] Rasulullah SAW memerintahkan agar umatnya memiliki kasih sayang dan dengan kasih sayang inilah Allah SWT akan melimpahkan kasih sayang-Nya.

Menurut Al-Hasyimi bahwa kasih sayang merupakan terjemahan dari kata ar-Rahmah. Kata ini yang disebut dalam hadits-hadits berasal dari kata ar-rahmu atau ar-rahim yang artinya adalah kedekatan dan hal-hal yang dapat menyebabkan timbulnya kedekatan. Dari akar kata inilah, ar-rahmah diartikan sebagai halus, lemah lembut, kasih sayang dan lunak yang semuanya mengarah pada satu arti, yaitu “sangat dekat”. Kebalikkan dari sifat ar-rahmah adalah bersikap kasar, keras hati dan kaku. Sikap kasih sayang merupakan salah satu sifat Allah SWT dan juga Rasulullah saw menunjukkan dan dikenal dengan sikap kasih sayang ini.[19] Melalui pembinaan karakter atau akhlak, siswa diajar dan dibimbing untuk melakukan Firman Allah SWT dan mengikuti teladan Rasulullah SAW, yaitu memiliki kasih sayang. Sikap ini yang sangat berpengaruh ketika dirinya berinteraksi dengan orang lain.

Rauf menyatakan bahwa sebenarnya seorang muslim merupakan “Duta Besar” bagi Islam untuk menebarkan sayang, cinta, damai dan kenyamanan hidup bagi seluruh dunia. Karakter yang baik memiliki nilai yang sangat tinggi bagi jalan hidup seorang muslim. Rasulullah menasehati agar umatnya berbuat kepada orang lain sesuai dengan kemampuannya. Seorang muslim yang baik harus memiliki intensitas atau kecenderungan dan keinginan yang baik kepada semua orang.[20] Sikap yang baik dan murah hati akan membuat siswa keberadaannya disukai dan disayangai oleh banyak orang. Sikap ini yang membuat dirinya berkenan di hadapan Allah SWT.

Pembinaan karakter di sekolah juga dimaksudkan agar siswa memiliki perkataan yang baik, lemah lembut dan sikap menghargai orang lain. Al-Hasyimi menyatakan bahwa perkataan yang baik, lemah lembut dan sikap menghargai orang lain merupakan tindakan-tindakan yang memiliki dampak positif bagi dirinya sendiri dan orang lain. Rasulullah menekankan bahwa perkataan yang keluar dari mulut seseorang harus ditata, lemah lembut dan kemurahan hatinya menjadi tradisi atau kebiasaan yang harus dilakukan.[21] Perkataan yang baik akan membuat seseorang kehidupan sosialnya juga menjadi baik. Melalui perkataan yang demikian, membuat dirinya dapat menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain. Perkataan yang diucapkan tidak menyakiti dan merendahkan orang lain. Perkataan yang baik akan melahirkan sikap menghargai orang lain. Perkataan yang keluar dari mulut seseorang hendaknya perkataan yang lemah lembut, menjadi berkah dan disukai orang lain.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik, atau (kalau tidak bisa) lebih baik diam (saja). Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaknya memuliakan tetangganya dan barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya. (HR al-Bukhari dan Muslim, Hadits no. 47)

 

Perkataan yang keluar dari orang beriman adalah kelemahlembutan. Perkataan yang lemah lembut membuat Allah SWT dan Rasulullah SAW senang. Sebagai mana yang disabdakannya bahwa “Sesungguhnya Allah adalah Maha Lemah Lembut dan suka terhadap kelemahlembutan dalam segala hal.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Pembinaan karakter bertujuan agar siswa memiliki sikap tidak pemarah, pemaaf, dan memiliki kesabaran. Al-Hasyimi menyatakan bahwa pemarah merupakan sikap tercela yang muncul dalam diri seseorang akibat dorongan amarah dan nafsu. Islam menganjurkan umatnya untuk tidak menjadi seorang pemarah, melainkan bersikap lemah lembut. Sifat lemah lembut merupakan kebalikan dari sifat pemarah.[22] Sifat pemarah bukannya membawa seseorang disenangi oleh banyak orang, melainkan menjadikan dirinya dibenci, dicemooh dan dihindari. Sifat pemarah tidaklah menguntungkan melainkan merugikan diri sendiri. Sifat pemarah yang berlebihan akan membuat seseorang tidak dapat dikendalikan oleh akal dan keberagamaannya, sehingga dirinya tidak memiliki pertimbangan yang matang dan dapat menyebabkan dirinya mengambil keputusan yang salah.

Pembinaan karakter bagi siswa sangat penting. Melalui pembinaan karakter membuat siswa memiliki sifat tidak mudah marah. Hal ini yang dapat mengurangi peristiwa tawuran yang akhir-akhir ini sering terjadi dalam lingkungan siswa. Tawuran terjadi pada awalnya karena persoalan yang kecil seperti ejekan atau humoran, namun menjadi persoalan yang besar dengan melibatkan dua kelompok yang besar. Dampak tawuran bukan hanya terjadi bagi pelaku namun juga bagi warga yang melintasi wilayah terjadinya tawuran. Tawuran terjadi karena siswa memiliki sifat pemarah yang berlebihan dan tidak memiliki pengendalian, pengambilan keputusan yang salah dan anggapan dalam lingkungannya sebagai suatu bentuk keberanian. Dengan pembinaan karakter atau akhlak, siswa diarahkan dan dibimbing untuk memiliki pengendalian diri, tidak mudah marah, memiliki kesabaran dan pemaaf.

Menurut imam Al-Ghozali dalam Al-Hasyimi bahwa kelemah lembutan merupakan tunduknya potensi kemarahan terhadap bimbingan akal. Sikap lemah lembut dalam diri manusia dapat dimulai dengan melatih diri menahan amarah. Di dalam amarah terkandung sikap menantang dan tidak adanya kesabaran. Di dalam kelemahlembutan adanya unsur kesabaran. Kesabaran merupakan sikap tidak berdaya menghadapi kondisi yang menimpa dan tidak disertai dengan sikap menantang.[23]

Rasulullah SAW menghiasi dirinya dengan kelemah lembutan, tidak mudah marah, memiliki kesabaran dan seorang pemaaf. Dirinya justru meminta perlindungan dari Allah SWT dari keinginan untuk marah dan dendam. Menahan amarah dan memaafkan orang lain merupakan dua unsur yang sama penting dan harus ada dalam diri umat Islam, sebagaimana Allah SWT bersabda:

 

Artinya :  “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (al-Ar’aaf: 199-201)

 

Pembinaan karakter dilakukan di sekolah juga bertujuan agar siswa memiliki kejujuran sehingga dirinya dapat dipercaya oleh banyak orang. Menurut Khalid bahwa sebelum Muhammad diutus menjadi nabi dan rasul, dirinya dikenal oleh banyak orang sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya, sehingga dirinya oleh masyarakat dijuluki sebagai “Ash-Shadiqul Amin”.[24]  Mungkin saja karena kejujurannya Muhammad mendapatkan anugerah dan dipercaya menjadi seorang nabi dan rasul untuk memberitakan ajaran Allah SWT.

Jarir ibn Abdullah r.a yang dikutip Rauf menyatakan bahwa Rasulullah bersabda Allah tidak akan pernah bermurah hati kepada orang tidak bermurah hati kepada orang lain. Bersikap sombong merupakan perbuatan yang paling dibenci dan dimurkai dalam jalan hidup orang muslim. Bohong atau ketidak jujuran hanya ada dalam diri orang munafik. (HR Muttafag ‘alaih)[25]

Dalam kehidupan di sekolah siswa dituntut untuk memilki kejujuran. Kejujuran itu juga meliputi kejujuran dalam kompetensinya. Dalam arti, ketika adanya ujian sebagai bentuk tes dari kompetensi yang dimilikinya setelah menerima pelajaran dirinya tidak menyontek atau meminta bantuan teman. Dirinya percaya terhadap kemampuannya dan tidak melakukan kemunafikan dengan bersikap tidak jujur. Kejujuran akan membuat dirinya dapat dipercaya oleh banyak orang. Apabila dirinya tidak jujur dalam ujian atau tugas-tugas pelajaran lainnya, maka perolehan nilai yang tinggi dan tidak disertai dengan kompetensi yang nyata, membuat orang tidak percaya kepada dirinya.

Kejujuran dalam perkataan sebagai wujud dari tanggungjawabnya dan membuat siswa dapat dipercaya. Orangtua akan memberikan kepercayaan kepada anaknya apabila anaknya dapat dipercaya dengan menujukkan kejujuran dan sikap tanggungjawab. Orangtua memberikan dan menitipkan uang pembayaran biaya sekolah kepada anaknya, dikarenakan ananya tersebut benar-benar membayarkan uang tersebut sesuai dengan tugas yang diberikan dengan dibuktikan melalui kwitansi pembayaran. Sikap anak tersebut menujukkan kejujuran dan tanggungjwabnya terhadap tugas yang diberikan oleh orangtua.

Orang yang tidak jujur maka akan menjadikannya memiliki kebiasaan berbohong. Orang yang seperti ini apabila kebohongan dirinya diketahui oleh orang lain akan membuat dirinya tidak mendapatkan kepercayaan. Kejujuran sangat penting sebagai salah satu akhlak mulia. Dengan kejujurannya menghantarkan seseorang ke surga, seperti sabda Rasulullah yang artinya :

Jujurlah kalian, karena kejujuran akan menghantarkan kepada kebajikan, dan kebajikan akan menghantarkan ke surga. Di saat seseorang selalu jujur dan menjaga kejujurannya, Allah SWT akan menetapkannya sebagai orang yang jujur. Janganlah kalian berbohong, karena kebohongan akan menghantarkankepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa akan menghantarkan seseorang masuk neraka. Bila seseorang selalu berbohong dan membiasakan diri berbohong, Allah SWT akan menetapkannya sebagai pembohong. (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi)     

 

Disiplin dan tanggungjawab terhadap pengerjaan tugas-tugas pembelajaran seringkali menjadi persolan bagi siswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa adanya siswa-siswa tertentu apabila dirinya kurang atau tidak menyukai pelajaran tertentu menujukkan sikap kurang disiplin dan bertanggungjawab, yaitu malas masuk kelas, terlambat hadir di kelas, malas mengerjakan tugas dan cenderuung menyontek temannya. Sikap yang demikian dapat membuat siswa bersikap tidak jujur. Hal ini yang dapat berdampak pada ketidak percayaan guru terhadap dirinya bahkan orang-orang yang ada di lingkungannya.

Karakter atau akhlak mulia harus ditanamkan dan dibentuk dalam diri siswa. Dengan karakter positif atau akhlak mulia membuat dirinya memilki kemampuan sosial yang baik, sehingga membuat dirinya dapat menciptakan hubungan yang harmonis. Keadaan yang demikian akan membawa siswa dapat dipercaya oleh orang lain dan mengalami keberhasilan baik dalam sekolah maupun kehidupan sehari-hari. Karakter yang baik akan membuat siswa bersikap dan bertingkahlaku sesuai dengan norma-norma atau etika agama dan yang berlaku di dalam masyarakat. Karakter yang baik membuat dirinya disenangi oleh banyak orang, hidupnya menjadi berkah, dan berdampak yang positif bagi dirinya sendiri dan orang lain. Pembinaan karakter membantu siswa untuk dapat memiliki dan menjaga karakter positif atau akhlak mulia dalam dirinya.

Berdasarkan teori-teori di atas, maka disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan efektifitas pembinaan karakter adalah hasil yang dicapai dalam usaha membina dan membentuk karakter siswa yang ditunjukkan melalui sikap, tingkah laku sesuai dengan norma-norma atau etika agama dan yang ada dalam masyarakat. Efektifitas pembinaan karakter diukur dengan lima dimensi, yaitu:

  • Sikap dengan indikator-indikatornya: a) memiliki kerendahan hati, dan b) menghargai orang lain.
  • Perkataan dengan indikator-indikatornya: a) memiliki perkataan yang baik, dan b) lemah lembut,
  • Pengendalian diri dengan indikator-indikatornya: a) tidak mudah marah, b) pemaaf, dan c) sabar.
  • Kepedulian dengan indikator-indikatornya: a) memiliki kasih sayang, b) murah hati, dan c) empati.
  • Dapat dipercaya dengan indikator-indikator: a) memiliki kejujuran, b) disiplin dan c) bertanggungjawab Tercapainya indikator tersebut sebagai ukuran dari kegiatan pembinaan karakter yang efektif.

 

Pengaruh Efektifitas Pembinaan Karakter terhadap Hasil Belajar

Dalam pembelajaran siswa tidak hanya diajar untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman, memiliki sikap dan tingkahlaku yang sesuai dengan norma-norma atau etika masyarakat, sehingga dirinya dapat hidup rukun dengan sesamanya dalam membangun suatu negara sebagai perwujudan dari rasa cinta tanah air. Pengetahuan dan pemahaman tersebut yang harus diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang ditunjukkan melalui sikap dan perbuatan siswa sehari-hari, baik di sekolah maupun lingkungan tempat dirinya tinggal.

Untuk dapat mewujudkan sikap dan tindakan ini tidak hanya dibutuhkan melalui usaha pentransferan pengetahuan dan pemahaman guru melalui proses pembelajaran di kelas saja, melainkan diperlukan suatu pembinaan secara intens untuk membimbing, mengarahkan, membina dan membentuk siswa memiliki karakter yang positif, yaitu melalui pembinaan karakter. Dengan pembinaan karakter yang dilaksanakan secara efektif akan membuat siswa memiliki kepribadian, sikap dan tingkah laku. Pembinaan karakter yang efektif akan membawa siswa mengalami perubahan dalam tingkah lakunya dan yang berdampak pada peningkatan pencapaian hasil belajar.

Melalui pembinaan karakter yang dilaksanakan secara efektif akan membuat tujuan pembelajaran akan cepat tercapai. Tujuan adalah mengembangkan nilai-nilai tanggung jawab sosial dan moral siswa serta membuatnya terlibat aktif dalam masyarakat. Dengan pembinaan karakter yang juga bertujuan membentuk siswa memiliki sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma atau etika agama dan yang ada dalam masyarakat akan membuat siswa tidak hanya memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang bagaimana dirinya harus bertingkah laku, melainkan menujukkan tingkah laku yang baik bagi diri dan masyarakatnya. Pembinaan karakter yang efektif akan membuat siswa memiliki kompetensi dan keterampilan yang dinyatakan dalam kurikulum. Hal ini menjadi suatu indikasi dan ukuran dari peningkatan pencapaian hasil belajar.

Dengan demikian, diduga bahwa terdapat pengaruh efektifitas pembinaan rohani terhadap hasil belajar. Semakin efektif pelaksanaan pembinaan rohani yang dilakukan sekolah akan meningkatkan hasil belajar.

 

Pengaruh Profesionalitas Guru terhadap Efektifitas Pembinaan Karakter

Pembinaan karakter dapat dikatakan efektif apabila tujuan dari pelaksanaannya tercapai. Efektifitas pelaksanaan pembinaan karakter terlihat dari perubahan yang dialami siswa dalam sikap dan tingkah lakunya. Dirinya tidak lagi memiliki karakter negatif melainkan bersikap dan bertingkah laku yang sesuai dengan norma-norma atau etika agama dan yang ada dalam masyarakat. Pembinaan karakter akan berlangsung secara efektif apabila guru sebagai pelaksana/pembina tidak hanya sekedar mengarahkan dan membimbing saja, melainkan dirinya juga menujukkan karakter yang sesuai dengan apa yang diajarkannya. Dengan memberikan keteladanan akan membuat siswa yang mengikuti pembinaan karakter memperoleh perilaku contoh dari guru pembinannya. Keteladanan atau perilaku contoh ini yang akan membuat pelaksanaan pembinaan karakter menjadi efektif.

Dalam pembelajaran, guru tidak hanya berperan penting dalam pentransferan pengetahuan, pemahaman, kemampuan dan keterampilannya saja, melainkan juga memberikan keteladanan dalam sikap dan tingkah lakunya. Sebagaimana filosofi pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro, bahwa “ing ngarso sung thulodo, Ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Artinya apabila seorang guru berada di depan, dirinya berusaha memberikan keteladan hidup; apabila dirinya hidup di tengah-tengah orang-orang yang diajar, dirinya berusaha  memberi dorongan, semangat maupun motivasi agar mereka maju dan berkembang; dan apabila seorang guru berada di belakang, dirinya akan berusaha untuk mengikuti kehendak atau kemauan para siswa, sambil mengawasi, mengarahkan atau memantau, agar tetap hidup dalam jalan yang benar sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan.

Untuk mewujudkan hal ini diperlukan kepribadian guru yang stabil dan mantap. Guru tidak hanya memiliki kompetensi profesional melainkan juga kompetensi kepribadian dan sosial. Kompetensi kepribadian yang dimiliki guru akan membuat dirinya memiliki memiliki sikap yang menjadi teladan, sikapnya sesuai dengan norma-norma atau etika agama dan masyarakat, memiliki wibawa, dihargai, serta kekuatan dalam menggerakkan siswannya untuk mengalami perubahan dan mempertahankan karakter yang positif. Guru yang kompeten akan dapat membuat pembinaan karakter menjadi efektif yang ditunjukkan dengan tercapainya tujuan dari pelaksanaannya, di mana siswa menunjukkan sikap rendah hati, perkataan yang baik dan menghargai orang lain, kasih sayang dan murah hati, tidak mudah marah, lemah lembut dan pemaaf, jujur, disiplin, bertanggungjawab, dapat dipercaya.

Dengan demikian, diduga bahwa profesionalitas guru berpengaruh terhadap efektifitas pembinaan karakter. Guru yang profesional akan membuat dirinya dapat menggerakkan siswa sesuai dengan tujuan dilakukannya kegiatan pembinaan karakter. Dengan kompetensi kepribadiannya, guru dapat membawa siswa mengalami perubahan dan peningkatan karakternya menjadi positif dan lebih baik.


 

[1]A. Doni Koesoema. Pendidikan Karakter. Diakses dari: http://www.asmakmalaikat.com/go/ artikel/pendidikan/umum1.htm

[2]T.A. Hill. Character First!. Diakses dari:  http://www.charactercities.org/downloads/ publications/Whatischaracter.pdf.

[3]Yakub Tomatala. 1998. Manusia Sukses. Malang: Gandum  Mas. h. 31.

[4]Tim LPPKB. Karakter Bangsa. Diakses Dari: http://dunialppkb.wordpress.com/bina-karakter-bangsa/

[5]Abdul Mun’in Al-Hastimi. 2009. Akhlak Rasul Menurut Bukhari dan Muslim. Jakarta: Gema Insani. h. 7.

[6]Loc.Cit.

[7]Amru Khalid. 2008. Tampil Menawan dengan Akhlak Mulia. Jakarta: Cakrawala Publishing. h. viii.

[8]Aip Syarifuddin, 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan & Balai Pustaka. h. 250.

[9]Russell T. Williams dan Ratna Megawangi. Dampak Pendidikan Karakter terhadap Akademik Anak. Diakses dari: http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/dampak-pendidikan-karakter-terhadap-akademi-anak/

 

[10]Wanda Chrisiana. Upaya Penerapan Pendidikan Karakter Bagi Mahasiswa (Studi Kasus Di Jurusan Teknik Industri UK Petra). Diakses dari: http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/ind/ article/viewPDFInterstitial/16334/16326

[11]A.  Doni Koesoema. Op. Cit., h. 2.

[12]Russell T. Williams dan Ratna Megawangi. Op. Cit., h. 1.

[13]Wanda Chrisiana. Op. Cit., h. 2.

[14]Abdul Mun’in Al-Hastimi. Op. Cit., h. 11.

[15]Firdaus. 2007. Jalan Lurus: Bimbingan Membentuk Pribadi Muslim Sejati. Jakarta: Erlangga. h. 124.

[16]Abdul Mun’in Al-Hastimi. Op. Cit., h. 12-14.

[17]Ferry. et.al. 2005. Tawadhu. Jakarta: Citra Adhikara Widadharma. h. 9.

[18]Amra Khalid. Op. Cit., h. 209.

[19]Abdul Mun’im Al-Hasyimi. Op. Cit., h. 368.

[20]Abdul Rauf. 2005. Quantum Ruhani. Bandung: Tafakur. h. 118, 165.

[21]Abdul Mun’im Al-Hasyimi. Op. Cit., h. 67.

[22]Ibid., h. 243.

[23]Ibid., h. 247.

[24]Amru Khalid. Op. Cit., h. 91.

[25]Abdul Rauf. Op. Cit., h. 176.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: