CARA ALLAH SWT MEMBERI RIZKI


CARA ALLAH SWT MEMBERI RIZKI

KEPADA MAKHLUKNYA

Hamdalah

Kata Rizki berasal dari bahasa Arab Razaqa-Yarzuqu-Rizq yang berarti: A’tha-Yu’thi-I’tha’ (pemberian). Secara istilah rizki adalah Apa saja yang bisa dikuasai (diperoleh) oleh makhluk, baik yang bisa dimanfaatkan atau tidak.

Definisi “Apa saja yang bisa dikuasai (diperoleh)” meliputi semua bentuk rizki: Halal & Haram; Positif & Negatif; Sehat & Sakit; Cerdas & Tidak cerdas; Cantik & Jelek, dan sebagainya, Semuanya merupakan rizki.

Definisi ini menjelaskan, bahwa rizki berbeda dengan hak milik. Sebab, hak milik selalu memperhatikan cara syar’i atau ghayr syar’i, jika caranya syar’i, maka hak miliknya halal dan jika ghayr syar’i, maka hak miliknya tidak halal.
Tetapi, dua-duanya tetap disebut rizki. Definisi ini juga meliputi rizki yang diperoleh secara mutlak, baik tanpa usaha, seperti pemberian, waris, diyat, ataupun karena usaha, seperti bekerja, menjadi broker, atau yang lain, termasuk kerja yang diharamkan, seperti mencuri, merampok dan sebagainya. Semuanya ini bisa mendatangkan rizki meskipun kemudian ada yang halal dan haram.

Mengenai definisi “baik yang bisa dimanfaatkan maupun tidak” meliputi semua bentuk rizki, baik yang positif maupun yang negatif, sekaligus menafikan rizki yang dianggap hanya sesuatu yang bisa dimanfaatkan saja.

 

CARA ALLAH SWT MEMBERI RIZKI

  1. RIZKI TINGKAT PERTAMA (YANG DIJAMIN OLEH ALLAH)

“Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya.”(QS. 11: 6)

 

Artinya Allah akan memberikan kesehatan, makan, minum untuk seluruh makhluk hidup di dunia ini. Ini adalah rezeki dasar yang terendah.

 

  1. RIZKI TINGKAT KEDUA

“Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yang telah dikerjakannya” (QS. 53: 39)

 

Allah akan memberikan RIZKI sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Jika ia bekerja dua jam, dapatlah hasil yang dua jam. Jika kerja lebih lama, lebih rajin, lebih berilmu, lebih sungguh-sungguh, ia akan mendapat lebih banyak. Tidak pandang dia itu muslim atau kafir.

 

  1. RIZKI TINGKAT KETIGA

“… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. 14: 7)

 

Inilah RIZKI yang disayang Allah SWT. Orang-orang yang pandai bersyukur akan dapat merasakan kasih sayang Allah SWT dan mendapat RIZKI yang lebih banyak. Itulah Janji Allah! Orang yang pandai bersyukurlah yang dapat hidup bahagia, sejahtera dan tenteram. Usahanya akan sangat sukses, karena Allah SWT tambahkan selalu.

 

  1. RIZKI KE EMPAT (UNTUK ORANG2 BERIMAN DAN BERTAQWA)

“…. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah SWT niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah SWT niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah SWT melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah SWT telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS.Ath-Thalaq/65:2-3)

 

Peringkat RIZKI yang keempat ini adalah RIZKI yang istimewa, tidak semua orang bisa meraihnya. Orang istimewa ini (muttaqun) adalah orang yang benar-benar dicintai dan dipercaya oleh Allah untuk memakmurkan atau mengatur kekayaan Allah SWT di bumi ini.

 

Menurut Ibn Katsir mengutip pernyataan Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi. “Apabila engkau mendengar firman Allah Ta’ala (wa rizqun karim, QS. 22:50) ‘Dan rizki yang mulia,’ maka rizki yang mulia itu adalah surga.

 

Dengan demikian, maka sebaik-baik rizki adalah surga. Jadi, dalam kehidupan dunia ini kita harus mengutamakan dua perkara penting, yakni iman dan amal sholeh. Karena hanya keduanyalah yang dapat mengantarkan setiap jiwa mendapatkan rizki yang mulia.

 

Sangat tidak patut bahkan sangat tercela bila ada seorang Muslim merasa terhina hanya karena kurang harta. Apalagi kalau sampai berani mengambil keputusan tidak benar dalam hidupnya karena alasan kemiskinan. Sebab, rizki yang paling mulia adalah surga, bukan harta atau benda.

 

Itulah mengapa, para Nabi dan Rasul tidak pernah berbangga dengan harta dan benda. Bahkan para Nabi dan Rasul itu lebih memilih hidup susah demi rizki yang mulia di sisi-Nya. Namun demikian, Islam tidak mengharamkan umatnya kaya raya. Karena kekayaan yang disertai iman juga bisa mengantarkan seseorang pada derajat yang mulia di sisi-Nya.

 

Wallahu a’lam

Dari berbagai sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: