KEMANDIRIAN BELAJAR


KEMANDIRIAN BELAJAR

(Sebuah Definisi)

 buku

Ada beberapa istilah dalam bahasa Inggris yang diterjemahakan sebagai kemandirian, yaitu independency dan outonomy. Gilmore menyatakan bahwa independency merupakan gambaran atas perbuatan sendiri berupa kebebasan seseorang dari pengaruh orang lain, dan menujuk pada kemampuan dalam mendiskriminasi di antara beberapa obyek, orang atau alternatif lain menuju ke pengambilan keputusan atau pemecahan masalah yang cocok. Independency atau kebebasan dalam arti bahwa ketika mengerjakan sesuatu, dirinya tidak mengharapkan bantuan atau pengarahan orang lain.[1] Peserta didik yang memiliki kemandirian dirinya memiliki inisiatif dalam mengerjakan sesuatu tanpa mengharapkan bantuan dari orang lain. Peserta didik yang demikian memiliki kemampuan dalam mengungkapkan berbagai alternatif dan mengambil keputusan yang cocok dalam pemecahan permasalahan pembelajaran. Kemandirian inilah yang akan membawa peserta didik mengalami keberhasilan dalam pembelajaran.

Menurut Bhatia dalam Sukirman bahwa indipendency merupakan tingkahlaku seseorang yang aktivitasnya diarahkan oleh dirinya sendiri, tidak mengharapkan bantuan orang lain, berusaha sendiri dalam memecahkan dan menyelesaikan permasalahannya tanpa adanya kontribusi dari orang lain.[2] Pengertian ini memiliki makna bahwa peserta didik yang memiliki kemadirian dirinya tidak bergantung kepada bantuan orang lain, melainkan berusaha sendiri. Ketika dalam pembelajaran dirinya mendapatkan tugas tidak mengandalkan teman, melainkan mengerjakan sendiri dengan mengandalkan kemampuan yang dimilikinya.

Menurut Frank dalam Sitanggang bahwa independency merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengatur dirinya sendiri dengan tidak bergantung kepada orang lain.[3] Sedangkan Lamman juga dalam Sitanggang menyatakan bahwa autonomy merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk beradaptasi dengan lingkungannya, kemampuan untuk menguasai konflik internal dan perasaan yang berkaitan dengan ketergantungan, rasa malu, rasa bersalah serta dapat melepaskan diri dari ikatan dan kehidupan orang lain.[4] Hal ini memiliki pengertian bahwa independency dan autonomy sama-sama menekankan pada kebebasan dalam bertindak yang tidak dipengaruhi oleh orang lain. Kemandirian akan membuat peserta didik dapat mengelola konflik dan mengambil keputusan yang tepat dalam pembelajaran. Kemandirian akan membuat peserta didik mampu melepaskan dirinya dari rasa malu dan ketergantungan dari orang lain. Kemandirian akan membuat peserta didik menjadi orang yang mengandalkan dirinya sendiri dan berusaha dengan keyakinan bahwa dirinya memiliki kemampuan.

Menurut Seifer bahwa outonomy merupakan kebebasan dalam berpikir dan bertindak serta mengerjakan sendiri apa yang diinginkan.[5] Sedangkan Brewer menyatakan bahwa seseorang yang memiliki outonomy, tingkahlaku yang ditampilkan sebagai kekuatan atau dorongan dari dalam dirinya dan bukan dari pengaruh orang lain, mempunyai kemampuan mengontrol diri, kemampuan mengembangkan sikap kritis, dan kemampuan membuat keputusan secara bebas tanpa adanya pengaruh dari orang lain.[6] Peserta didik yang memiliki autonomy dirinya mampu mengontrol diri dan bertanggungjawab atas tugas-tugas pembelajaran. Tanggungjawab tersebut yang ditunjukkan dengan berusaha sendiri dalam mengerjakannya tanpa meminta bantuan dari orang lain. Kemandirian belajar membuat peserta didik lebih mengandalkan kemampuan berpikirnya sendiri tanpa adanya pengaruh dari orang lain.

Menurut Utomo menyatakan bahwa kemandirian merupakan suatu kemampuan seseorang dalam menyelesaikan permasalahannya secara bebas, progresif dan penuh dengan inisiatif.[7] Sedangkan Rogers menyatakan bahwa kemandirian merupakan sikap yang menunjukkan keenganan untuk dikontrol orang lain.[8] Peserta didik yang memiliki kemandirian dirinya memiliki keyakinan yang ditunjukkan dengan rasa percaya diri yang kuat dalam memilih dan menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran. Peserta didik yang demikian akan merasa puas dengan pilihannya tersebut sebab dirinya memiliki keyakinan bahwa pilihannya tidaklah salah sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dalam menentukan pilihan dan tindakan dirinya enggan dikontrol oleh orang lain, sehingga pilihan dan tindakan tersebut benar-benar berasal dari dorongan dalam dirinya sendiri.

Menurut Holstein bahwa kemandirian merupakan penampilan seseorang yang sikap dan perbuatannya menandakan keswakaryaan atau berbuat sendiri secara aktif dalam memberikan pendapat, penilaian, pengambilan keputusan, dan pertanggungjawaban. Tindakan tersebut merupakan respons yang muncul secara spontan sebagai cerminan percaya dirinya.[9] Murry dalam Lindzey dan Hall menyatakan bahwa kemandirian merupakan salah satu kebutuhan psikologis yang dapat menggerakan perilaku seseorang.[10] Sedangkan Lindzey dan Hall menyatakan bahwa seseorang yang memiliki kemandirian memiliki inisiatif dan berusaha mengejar prestasi, menunjukkan rasa percaya diri yang besar, tidak mencari perlindungan pada orang lain dan memiliki rasa ingin tahu yang besar.[11] Kemandirian dalam belajar akan membuat peserta didik terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Dirinya memiliki inisiatif dalam belajar dengan meningkatkan kemampuan melalui berbagai usaha secara mandiri. Inisiatif tersebut muncul dari dalam dirinya karena dorongan untuk memiliki penguasaan terhadap materi pelajaran serta mewujudkan prestasi belajar yang diharapkan. Kemandirian inilah yang membuat peserta didik tidak menggantungkan atau berharap kepada bantuan orang lain melainkan lebih mengandalkan kemampuannya sendiri dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran dan pengambilan keputusan. Sikap demikian dikarenakan dirinya memiliki percaya diri yang tinggi terhadap kemampuan yang dimilikinya.

Candy menyatakan bahwa kemandirian belajar adalah suatu proses, suatu metoda dan suatu filosofi pendidikan di mana peserta didik memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kemampuan melalui usahanya sendiri tanpa berharap pada bantuan orang lain.[12] Cruickshack, Brainerd dan Metcalf kemandirian belajar merupakan upaya yang dilakukan peserta didik sendiri terhadap tugas pembelajaran yang berhubungan dengan sekolah.[13] Konsep dari kemandirian belajar di mana peserta didik berusaha secara mandiri dalam mengerjakan tugas-tugas pembelajaran tanpa berharap kepada bantuan orang lain. Dalam tindakan tersebut dirinya berusaha melalui berbagai cara untuk memiliki penguasaan terhadap konsep atau materi pembelajaran yang dipelajarinya. Melalui berbagai usaha tersebut kemampuan peserta didik akan meningkat sehingga dirinya dapat menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran dengan baik serta mencapai hasil belajar yang tinggi.

Menurut Chikering dalam Panen bahwa peserta didik yang memiliki kemandirian belajar adalah peserta didik yang dapat mengontrol dirinya sendiri, mempunyai motivasi belajar yang tinggi dan memiliki keyakinan akan dirinya serta memiliki orientasi atau wawasan yang luas.[14] Sedangkan Cole menyatakan bahwa kemandirian belajar peserta didik berkenaan dengan kemampuan dalam mengontrol tindakannya sendiri, bebas dalam mengatur motivasi dan kompetensi serta kecakapan yang akan dicapainya dalam pembelajaran.[15] Peserta didik yang memiliki kemandirian belajar dirinya dapat mengontrol tindakannya dan mengarakan pada pencapaian kemampuan atau kompetensi sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam pembelajaran. Kemandirian belajar yang membuat peserta didik dapat mengatur motivasinya dan meningkatkannya dalam mewujudkan hasil belajar yang diharapkan.

Kesten menyatakan bahwa dalam kemandirian belajar peserta didik ditunjukkan melalui nilai-nilai, sikap, ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membuat keputusan bertanggung jawab serta bertindak berkaitan dengan proses belajarnya tanpa mengharapkan bantuan orang lain. Kemandirian belajar membantu perkembangan peserta didik dengan menciptakan peluang dan pengalaman yang mendorong motivasi belajarnya, keyakinan diri, kepercayaan diri dan konsep diri yang positif.[16] Mujiman menyatakan bahwa kemandirian belajar merupakan kegiatan belajar aktif, yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai suatu kompetensi guna menyelesaikan suatu permasalahan, dan dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang dimiliki.[17] Hal ini memberikan makna bahwa kemandirian belajar muncul karena dorongan dari dalam diri peserta didik untuk memiliki kompetensi yang dapat digunakan dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran. Kemandirian belajar inilah yang membuat peserta didik memiliki peluang untuk berhasil dan meraih hasil belajar yang tinggi.

Karnita menyatakan bahwa kemandirian belajar merupakan suatu keadaan aktivitas belajar di mana peserta didik lebih mengandalkan kemampuan sendiri tanpa adanya ketergantungan kepada orang lain. Kemandirian belajar akan membuat peserta didik selalu konsisten dan memiliki dorongan belajar yang tinggi dimana pun dan kapan pun. Hal ini dikarenakan dalam dirinya sudah melembaga kesadaran dan kebutuhan belajar melampaui tugas, kewajiban, dan target yaitu nilai dan prestasi.[18] Kemandirian belajar yang sudah melekat atau melembaga dalam diri peserta didik akan membuat dirinya terus menerus mengantungkan pada kemampuan yang dimilikinya. Kemandirian belajar ini yang membuat dirinya tidak mengantungkan kepada orang lain meskipun dirinya diperhadapkan pada permasalahan pembelajaran yang sulit. Kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran justru membuat dirinya terus berusaha dengan tidak menyerah melalui berbagai usaha samapai dirinya menemukan jawaban yang tepat atas permasalahan pembelajaran tersebut.

Menurut Spencer dan Kass dalam Sukirman mengemukakan ciri-ciri kemandirian sebagai berikut: (1) mampu untuk mengambil inisiatif, (2) mampu untuk mengatasi masalah, (3) penuh ketekunan, (4) memperoleh kepuasan dari usahanya, (5) mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain.[19] Sedangkan Fitzgerald dan Sromen yang dikutip Sukirman mengemukakan ciri-ciri kemandirian adalah: (1) bersikap kritis terhadap tugas-tugas yang harus ditangani, (2) percaya diri, (3) tidak tergantung, (4) kreatif, (5) orisinil dan, (6) punya tingkat kecemasan rendah.[20] Peserta didik yang memiliki kemandirian belajar tinggi dirinya tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan belajar. Hal ini justru membuat dirinya berpikir kretif, orisinil dan inisiatif melalui berbagai usaha sampai menemukan solusi atau jawaban yang tepat dan benar atas kesulitan atau tugas-tugas pembelajaran. Dalam usaha tersebut dirinya tidak mengharapkan bantuan dan mengandalkan orang lain, melainkan berusaha sendiri dengan mengandalkan kemampuannya. Dari usaha tersebutlah dirinya dapat memecahkan permasalahan pembelajaran dan mendatangkan kepuasan dalam dirinya.

Menurut Grenbarger dan Sorensen dalam Suripto bahwa kemandirian mempunyai ciri-ciri tidak ada kebutuhan yang menonjol untuk memperoleh pengakuan dari orang lain, mampu mengontrol tindakannya sendiri dan penuh inisiatif.[21] Sedangkan Brewer mengemukakan ciri-ciri kemandirian (a) mampu melakukan kontrol diri, (b) mampu mengembangkan sikap kritis, (c) mampu membuat keputusan secara bebas tanpa dipengaruhi orang lain.[22] Kemandirian dalam belajar ditandai dengan adanya sikap kritis. Melalui sikap inilah peserta didik yang memiliki kemandirian tidak mudah percaya dengan informasi yang diberikan oleh orang lain melainkan dirinya kritis terhadap informasi tersebut dan lebih percaya terhadap usaha yang dilakukannya sendiri. Melalui sikap kritis inilah dirinya dapat mengambil keputusan sendiri yang tepat tanpa adanya kontrol dan bantuan orang lain.

Menurut Laman, Avery dan Frank seperti yang dikutip oleh Sitanggang bahwa aspek-aspek kemandirian meliputi: (1) kebebasan, (2) pengambilan keputusan, (3) kontrol diri, (4) ketegasan diri, dan (5) tanggung jawab.[23] Kemandirian belajar peserta didik juga ditandai adanya kebebasan dalam menentukan pilihan dan bertindak. Namun, tindakan dan pilihannya itu bukan semata-mata hanya untuk memenuhi keinginan sendiri tanpa arah melainkan dapat mengontrolnya, dan tindakan tersebut yang menunjukkan pada suatu usaha dalam memperoleh kompetensi dalam pembelajaran. Kemandirian belajar yang membuat peserta didik memiliki tanggungjawab terhadap tugas-tugas pembelajaran. Tanggungjawab inilah yang membuat dirinya berusaha sendiri ketika diberikan tugas-tugas pembelajaran tanpa mengharapkan dan meminta bantuan dari orang lain.

Gilmore menyatakan bahwa ciri-ciri seseorang yang memiliki kemandirian ditunjukkan melalui: (1) mempunyai tanggung jawab, (2) mempunyai pertimbangan yang rasional terhadap masalah yang dihadapi termasuk dalam memberikan penilaian dan mengambil keputusan, (3) mempunyai kepercayaan diri, (4) mempunyai gagasan baru yang berguna, dan (5) mempunyai keinginan berprestasi tinggi. Percaya diri sebagaimana disebut di atas, digambarkan dengan sikap dan tindakan tegas dalam mengambil keputusan, sedangkan tanggung jawab berarti kesediaan seseorang menerima segala konsekuensi keputusan dan tindakannya sendiri.[24]

Berdasarkan teori-teori di atas, dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar adalah kemampuan peserta didik mengatur tingkah lakunya sendiri dalam proses pembelajaran yang menunjukkan sikap inisiatif, kreatif, dapat menyeleksi dan mengambil keputusan dalam pembelajaran tanpa adanya kontrol dan mengharapkan bantuan dari orang lain. Kemandirian belajar ini diukur dengan indikator-indikator yaitu: 1) kontrol diri, 2) percaya diri, 3) memiliki ketekunan (ulet atau gigih), 4) memiliki kemampuan mengatasi masalah, 5) penuh inisiatif, 6) mempunyai gagasan baru yang berguna, 7) tanggungjawab dalam pembelajaran dan 8) dapat mengambil keputusan tanpa pengaruh orang lain.

 

[1]John V. Gilmore. 1974. The Productive Personality. San Fransisco, California: The Albion Publishing Company. h. 74.

[2]Sukirman. 1997. “Inteligensi, Kemandirian, Kebiasaan Belajar dan Prestasi Belajar Mahasiswa D2 PGSD IKIP Semarang,” Tesis. Jakarta: Pascasarjana Universitas Indonesia. h. 49.

[3]Merry Hotma Ria Sitanggang. 2004. Kaitan Kemandirian dan Kompetensi Interpersonal terhadap Sikap Kreatif pada Siswa SLTP Full Day School dan Non-Full Day School di Jakarta Selatan. Tesis. Jakarta: Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. h. 24.

[4]Ibid., h. 24.

[5]Kelvin Seifer. 1983. Educational Psychology. Boston, Massachusetts: Houghton Miffin Company. h. 427.

[6]F. H. Brewer. 1973. New Perspectives on Personality Developmen in The Colledge Students. San Fransisco: Yossey-Base Publisher. h. 27.

[7]Jacob Utomo. 1990. Membangun Harga Diri. Jakarta: Gramedia. h. 222.

[8]Rogers, D. Child. 1969. Child Psychology. California: Brooks/Cole Publisher Company. 73.

[9]Herman Holstein. 1984. Murid Belajar Mandiri. Terjemahan Suparmo. Bandung: CV. Karya Remaja. h. ix-xiii.

[10]Garduer Lidzey and Calvin S Hall, 1987. Theories of Personality. New York: Copy Right Ly Jhon W. h. 217.

[11]Ibid., h. 219

[12]Philip Candy. Independent Learning. Diakses dari situs http://www.brookes.ac.uk /services/ocsd/2_learntch/independent.html

[13]Donald R. Cruickshank, Deborah L. Bainer, Kim K. Metcalf. 1999. The Act of Teaching. Second Edition. New York: McGraw-Hill Collage. h. 181.

[14]Paulina Panen. 1994. Belajar Mandiri: Mengejar di Perguruan Tinggi. PAU-PPAI. Jakarta: Dirjen Dikti, Depdikbud. h. 5.

[15]Peter George Cole. 1995. Teaching Principles and Prectice. Sydney: Prestice Hall. h. 426.

[16]Cyril Kesten., Loc. Cit.

[17]Haris Mujiman. 2006. Manajemen Pelatihan. Yogyakarta :Pustaka Pelajar. h. 28.

[18]Karnita. Kemandirian Belajar. Diakses dari situs http://pikiran-rakyat.com/cetak/2006/ 042006/15/99forumguru.htm

[19]Sukirman. Op. Cit., h. 51.

[20]Ibid., h. 51.

[21]Suripto. 1996. Pengaruh Inteligensi, Status Sosial Ekonomi, Pola Asuh dan Kemandirian Belajar Anak terhadap Prestasi Belajar Siswa sekolah Dasar. Tesis. Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

[22]F. H. Brewer. Op. Cit., h. 34.

[23]Merry Hotma Ria Sitanggang. Op. Cit., h. 27.

[24]John V. Gilmore..Op. Cit., h. 155

Iklan

3 Tanggapan

  1. sama-sama gan, semoga bermanfaat untuk orang banyak

    Suka

  2. terimakasih gan, bermanfaat banet nih

    Suka

  3. artikelnya sangat bermanfaat, makasih yaa 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: