Religiusitas Siswa


SIKAP KEBERAGAMAAN (RELIGIUSITAS) PADA SISWA

ClipArt (211)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa sikap adalah perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan kepada pendirian (pendapat atau keyakinan) atau dapat juga diartikan sebagai pandangan hidup.[1]

Dalam pengertian umum sikap dipandang sebagai seperangkat reaksi-reaksi efektif terhadap objek tertentu berdasarkan hasil penalaran, pemahaman, dan penghayatan individu.[2] Dengan demikian sikap terbentuk dari hasil belajar dan pengalaman seseorang dan bukan sebagai pengaruh bawaan (faktor intern) seseorang serta tergantung kepada objek tertentu.    

Menurut Thurston dalam bukunya yang dikutip oleh Saifudin Azwar, menyimpulkan sikap sebagai derajat efek, efek positif atau efek negatif terhadap suatu objek psikologi. [3]

Sementara itu Ngalim Purwanto mendefinisikan sikap sebagai suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu perangsang atau situasi yang dihadapi.[4]

Mara’at merangkumkan pengertian sikap yang dikutif oleh Jalaludin dalam 11 rumusan, yaitu:

  1. Sikap merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang terus menerus dengan lingkungan.
  2. Sikap selalu dihubungkan dengan objek seperti manusia, wawasan, peristiwa atau ide.
  3. Sikap diperoleh dalam berinteraksi dengan manusia lain baik di sekolah, di rumah, tempat ibadat ataupun tempat lainnya melalui nasehat, teladan atau percakapan.
  4. Sikap sebagai wujud dari kesiapan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap objek.
  5. Bagian yang dominan dari sikap adalah perasaan dan efektif seperti yang tampak dalam menentukkan pilihan apakah positif, negatif atau ragu-ragu.
  6. Sikap memilki tingkat intensitas terhadap objek tertentu yakni kuat atau lemah
  7. Sikap tergantung pada situasi dan waktu, sehingga dalam situasi dan saat tertentu mungkin sesuai, sedangkan disaat dan situasi yang berbeda belum tentu cocok.
  8. Sikap dapat bersifat relatif konsisten dalam sejarah hidup individu.
  9. Sikap merupakan bagian dari konteks persepsi ataupun kognisi individu.
  10. Sikap merupakan penilaian terhadap sesuatu yang mungkin mempunyai konsekuensi tertentu bagi seseorang atau yang bersangkutan.
  11. Sikap merupakan penafsiran dan tingkah laku yang mungkin menjadi indikator yang sempurna, atau bahkan tidak memadai.[5]

Rumusan di atas menunjukkan bahwa sikap merupakan predisposisi untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap objek tertentu yang mencakup komponen kognisi, afeksi, dan konasi. Dengan demikian sikap merupakan interaksi dari komponen tersebut secara kompleks.

Komponen kognisi akan menjawab tentang apa yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang objek. Komponen afeksi dikaitkan dengan apa yang dirasakan terhadap objek (senang atau tidak senang), sedangkan komponen konasi berhubungan dengan kesediaan atau kesiapan untuk bertindak terhadap objek.[6] Dengan demikian sikap yang ditampilkan seseorang merupakan hasil dari proses berpikir, merasa dan pemilihan motif-motif tertentu sebagai reaksi terhadap suatu objek.

Menurut Zakiah Daradjat tingkah laku atau akhlaq seseorang adalah sikap seseorang yang dimanifestasikan ke dalam perbuatan. Sikap seseorang mungkin saja tidak digambarkan kedalam perbuatan atau tidak tercermin dalam prilakunya sehari-hari, dengan perkataan lain adanya kontradiksi antara sikap dan prilaku. Oleh karena itu, meskipun secara teoritis hal itu terjadi tetapi dipandang dari sudut ajaran-ajaran Islam itu termasuk iman yang rendah.[7]

Jadi jelaslah bahwa sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi berupa “Predisposisi” tingkah laku. Dapat lebih dijelaskan bahwa sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek tersebut.

Sedangkan kata Agama banyak didefinisikan oleh para ahli diantaranya yaitu:

Ahmad D. Marimba menuliskan definisi agama menurut M. Hasby Ash Shiddiqy, sebagai “Aturan-aturan dari Tuhan Yang Maha Esa sebagai petunjuk kepada manusia agar dapat selamat dan sejahtera atau bahagia hidupnya di dunia dan akhirat dengan petunjuk-petunjuk serta teladan pekerjaan Nabi beserta kitabnya”.[8]

Muzayyin dalam bukunya Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama mengatakan, dari aspek subjektif (pribadi manusia), mengandung arti pengertian tentang tingkah laku manusia yang dijiwai oleh nilai-nilai keagamaan yang berupa gerakan batin yang mengatur dan mengarahkan tingkah laku tersebut kepada pola hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan pola hubungan dengan masyarakat serta alam sekitarnya.[9]

Dari pendapat di atas, dapat dilihat bahwa agama adalah suatu zat yang lebih agung dan tinggi yang membawa peraturan-peraturan berupa hukum yang harus ditaati demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat sedangkan keagamaan itu sendiri berarti perilaku dalam kehidupan beragama. Keagamaan merupakan perwujudan sikap dan perilaku mereka yang berkaitan dengan Aqidah, Ibadah, Syariah dan hal-hal yang dianggap suci dan keramat yang berasal dari Allah.

Jadi sikap keagamaan siswa adalah suatu keadaan yang ada dalam diri siswa yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya terhadap agama, atau dengan kata lain “sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada pada diri seseorang yang mendorong untuk bertingkah laku sesuai dengan ajaran-ajaran agama”. Sikap keagamaan tersebut terbentuk oleh adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur kognitif, perasaan terhadap agama sebagai unsur efektif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur konatif. Jadi sikap keagamaan merupakan integrasi secara komplek antar pengetahuan agama, perasaan agama serta tindak kegamaan dalam diri seseorang.[10]

 

RELIGIUSITAS REMAJA TERHADAP AGAMA

Menurut Zakiah Daradjat sikap remaja terhadap agama ada empat, yaitu:

  1. Percaya Turut-turutan

Biasanya remaja seperti ini mereka terdidik dalam lingkungan yang beragama dan pada dasarnya mereka mempunyai sifat yang apatis terhadap agama, mereka tidak ada perhatian untuk meningkatkan agama, dan tidak mau aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Percaya turut-turutan ini biasanya tidak terlalu lama dan banyak terjadi hanya pada masa-masa remaja pertama umur 13-16 tahun.

  1. Percaya dengan Kesadaran

Biasanya semangat agama atau kesadaran agama itu tidak terjadi sebelum umur 17 atau 18 tahun, semangat agama itu mempunyai dua bentuk yaitu:

  1. Semangat Positif

Semangat agama yang positif ini berusaha melihat agama dengan pandangan yang kritis, tidak mau lagi menerima hal-hal yang tidak masuk akal dan bercampur dengan Khurafat-khurafat. Pandangan yang seperti ini membangkitkan rasa aman pada remaja terhadap agamanya.

Dalam proses pengembangan agama, mungkin saja remaja-remaja itu menyimpang dari ajaran-ajaran agamanya yang dulu sangat di peliharanya. Karena itu semangat agama tidak saja ditunjukkan kepada pembinaan agama, akan tetapi mengandung juga menentang terhadap agama.

  1. Semangat Agama Khurafi

Bagi seorang remaja yang mempunyai kecenderungan fikiran kekanak-kanakan, agama dan keyakinannya biasanya lebih cenderung kepada mengambil unsur-unsur luar tercampur ke dalam agama, misalnya khufarat, bid’ah dan sebagainya. Remaja yang seperti ini mempunyai keyakinan kepada pengaruh-pengaruh jin, setan, benda-benda keramat.

  1. Percaya Tapi Agak Ragu-ragu

Dari hasil penelitian yang dikatakan oleh Dr. Al-Maliqhy, dikutip oleh Zakiah Daradjat terbukti bahwa sebelum umur 17 tahun, kebimbangan beragama tidak terjadi. Puncak kebimbangan itu terjadi antara umur 17 dan 20 tahun.

Sesungguhnya kebimbangan terhadap ajaran agama yang pernah diterimanya tanpa kritik waktu kecilnya itu, merupakan pula pertanda bahwa kesadaran telah terasa oleh remaja. Biasanya kebimbangan itu mulai menyerang remaja setelah pertumbuhan kecerdasan mencapai kematangan, sehingga ia dapat mengkritik, menerima atau menolak apa saja yang diterangkan kepadanya.

Dikatakan juga suatu hal yang tidak boleh dilupakan ialah bahwa kebimbangan itu tergantung kepada dua faktor penting, yaitu keadaan jiwa orang yang bersangkutan dan keadaan sosial serta kebudayaan yang melingkupi remaja tersebut.

  1. Tidak Percaya Kepada Tuhan

Salah satu perkembangan yang mungkin terjadi pada akhir masa remaja adalah mengingkari wujud tuhan sama sekali dan menggantinya dengan keyakinan lain. Atau mungkin pula hanya tidak mempercayai adanya tuhan secara mutlak.[11]

Dalam keadaan pertama, mungkin seseorang merasa gelisah tapi dalam keadaan kedua terselip dibelakangnya kegoncangan jiwa. Ketidakpercayaan yang sungguh-sungguh itu tidak terjadi sebelum umur 20 tahun. Perkembangan remaja kearah tidak mempercayai adanya tuhan itu, sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari kecilnya.

 

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RELIGIUSITAS

Bentuk sikap keberagamaan seseorang dapat dilihat dari seberapa jauh keterkaitan komponen kognisi, afeksi dan konasi seseorang dengan masalah-masalah yang menyangkut agama. Hubungan tersebut jelasnya tidak ditentukan oleh hubungan sesaat melainkan sebagai hubungan proses, sebab pembentukan sikap melalui hasil belajar dari interaksi dan pengalaman. Dan pembentukan sikap itu sendiri ternyata tidak semata-mata tergantung pada satu faktor saja, tetapi antara faktor internal dan faktor eksternal yang keduanya saling berkaitan.

  1. Faktor Intern

Secara garis besarnya faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan seseorang antara lain adalah faktor hereditas, tingkat usia, kepribadian dan kondisi jiwa seseorang.

  1. Faktor Ekstern

Manusia sering disebut dengan homo religius (makhluk beragama), pernyataan ini menggambarkan bahwa manusia memiliki potensi dasar yang dapat dikembangkan sebagai mahluk yang beragama. Jadi manusia dilengkapi potensi berupa kesiapan untuk menerima pengaruh luar sehingga dirinya dapat dibentuk menjadi mahluk yang memiliki rasa dan prilaku keagamaan.

Potensi yang dimiliki manusia ini secara umum disebut fitrah keagamaan, yaitu kecenderungan untuk bertauhid. Sebagai potensi, maka perlu adadnya pengaruh tersebut yang berasal dari luar diri manusia. Pengaruh tersebut dapat berupa, bimbingan, pembinaaan, latihan, pendidikan dan sebagainya yang secara umum disebut sosialisasi.[12]

Menurut Jalaluddin faktor ekstern yang dinilai berpengaruh dalam perkembangan jiwa keagamaan dapat dilihat dari lingkungan dimana seseorang itu hidup. Umumnya lingkungan tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu keluarga, institusi dan masyarakat.

Untuk lebih jelas Robert H. Thoules, mengintegrasikan beberapa faktor sikap keberagamaan pada diri manusia, ia membaginya menjadi empat faktor:

  1. Faktor sosial, mencakup semua tekanan sosial, semua pengaruh social dalam perkembangan sikap keagamaan seperti pendidikan yang diterima sejak masa kanak-kanak, berbagai pendapat dan sikap orang-orang disekitar dan tradisi yang diterima dari masyarakat.
  2. Faktor Moral, yaitu pengalaman konflik antara religius prilaku yang oleh seseorang dianggap akan membimbingnya ke arah yang lebih baik dan rangsangan-rangsangan yang dimatanya tampak tidak didapat didalamnya terdapat pengalaman mengenai perpecahan, keselarasan dan kebaikan dunia.
  3. Faktor Emosional Tertentu, yaitu faktor yang sepenuhnya atau sebagian timbul dari kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi, terutama kebutuhan terhadap keamanan, cinta kasih, harga diri juga perasaan kematian.
  4. Faktor Intelektual, manusia adalah mahluk yang berfikir, salah satu akibat dari pemikiran manusia adalah bahwa ia membantu dirinya untuk menentukan keyakinan yang harus diterimanya.[13]

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwasanya untuk membentuk sikap keagamaan pada diri siswa diperlukan faktor-faktor yang saling mendukung, diantaranya yaitu faktor intern dan faktor ekstern dimana keduanya harus saling beriringan satu sama lain.

 

FUNGSI RELIGIUSITAS BAGI SISWA

Manusia memerlukan sikap atau akhlak untuk menjalani hidup. Karena sikap mempunyai fungsi untuk menghadapi berbagai situasi yang terjadi. Sikap atau akhlak merupakan cara seseorang untuk bertingkah laku dalam menghadapi situasi, sikap juga berfungsi sebagai ekspresi nilai yang dianut manusia serta sebagai cermin kepribadian yang bersangkutan.

Sikap memiliki suatu fungsi untuk menghadapi dunia luar agar individu senantiasa menyesuaikan dengan lingkungan menurut kebudayaan. Katz berpendapat bahwa sikap memiliki empat fungsi yaitu: fungsi instrumental, fungsi pertahanan diri, fungsi penerima dan pemberi arti dan fungsi nilai ekspresif.[14]

Berdasarkan fungsi instrumental, manusia dapat membentuk sikap positif maupun negatif terhadap objek yang dihadapinya. Adapun fungsi pertahanan diri berperan untuk melindungi diri dari ancaman luar. Kemudian fungsi penerima dan pmberi arti berperan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan, selanjutnya fungsi nilai ekspresif terlihat dalam pernyataan sikap sehingga tergambar bagaimana sikap seseorang atau kelompok terhadap sesuatu.

Fungsi lain dari sikap adalah sebagai pengontrol tingkah laku dan pernyataan kepribadian, sebagaimana Drs. H. Abu Ahmadi dalam bukunya “Psikologi Sosial” menyatakan bahwa fungsi sikap diantaranya ialah: (1) sikap berfungsi sebagai alat pengatur tingkah laku, dan (2) sikap berfungsi sebagai pernyataan kepribadian.[15]

Sikap sebagai pengatur tingkah laku artinya sikap merupakan pengontrol tindakan manusia apabila individu berhadapan dengan situasi tertentu, maka tindakan yang dilakukan sesuai dengan pengetahuan dan perasaan senang atau tidak senang.

Sikap sebagai pernyataan kepribadian artinya sikap merupakan cermin pribadi seseorang. Dengan melihat sikap individu dalam menghadapi situasi dalam hidup di masyarakat dapat dipahami keseluruhan pribadinya.

Jadi sikap keagamaan (religiusitas) seorang siswa adalah mutlak adanya. Dengan sikap keagamaan yang tinggi seorang siswa akan lebih santun dalam berhadapan dengan guru, dengan siswa, bahkan dalam dunia maya (media sosial). Yang terjadi sekarang adalah sikap keagamaan siswa lemah, adab dan sopan santun sudah sangat berkurang. Adab pergaulan sesama teman, adab pergaulan dengan guru, bahkan adab pergaulan dengan orang tua, sepertinya sudah tidak diindahkan.

Oleh karena itu pemberian sikap keagamaan melalui contoh atau buku agama, merupakan suatu kebutuhan yang harus kita jalankan. Melalui contoh adalah pemberian nilai akhlak berupa suri tauladan terutama dari gurunya. Sedangkan melalui buku agama adalah pemberian pelajaran berupa teori akhlak dan moral kepada siswa, agar mereka dapat menggunakan dalam kehidupan bermasyarakat, pergaulan dan pola hidupnya sendiri.


[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), h. 700

[2] Jalaluddin, Psikologi Agama, edisi revisi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), cet. ke-5, h. 201

[3] Saifudin Azwar, Sikap Manusia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset), h. 4-5

[4] M. Ngalim Purwnto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Karya, 1985), h. 136

[5] Jalaluddin, Psikologi Agama, op.cit, h. 201-202

[6] ibid, h.202

[7] Zakiyah Daradjat, et al. Dasar-dasar Agama Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 266

[8] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1989), h. 21

[9] Muzayyin Arifin, Pendoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama, (Jakarta: Golden Trayon Press, 1991) cit ke-2, h. 1

[10] Jalaluddin, Psikologi Agama, op.cit, h. 225

[11] Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h. 91-106

[12] Jalaluddin, Psikologi Agama, op.cit, h. 234

[13] Robert H. Thouless, Pengantar Psikologi Agama, Terjemahan. Machmud Husein, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), h. 19

[14] Jalaluddin, Psikologi Agama, op.cit., h. 212

[15] Maraat, Sikap Manusia, Perubahan Serta Pengukurannya, (Jakarta: Etalia Indonesia, 1994), h. 8

Iklan

2 Tanggapan

  1. betul banget itu om. siswa yang berreligi akan berpeilaku sesuai dengan ajaran agamanya.

    Suka

  2. memang sewajibnya siswa dibiasakan untuk religius karena akan berdampak pada perilaku dan sikapnya saat masih di rung lingkup pendidikan..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: