Cara Membentuk Kebiasaan


CARA MEMBENTUK KEBIASAAN

Cara yang dilakukan dalam rangka membentuk moralitas anak dengan cara mengontrol gerak-gerik mereka dan membiasakan anak dengan amalan-amalan yang dikerjakan dan yang diucapkan. Tujuan utama dari pembentukan kebiasaan adalah penanaman moral yang baik pada diri anak-anak.

Manusia ditakdirkan untuk mengenal nilai-nilai dan menilai mana yang baik serta mana yang buruk, maka dalam pembentukan kebiasaan ini seorang guru telah menentukan baik dan buruk menurut tarafnya. Untuk memudahkan pelaksanaannya maka pembentukan kebiasaan tersebut memerlukan alat dalam pelaksanaannya. Alat-alat tersebut adalah:

  1. Teladan

Teladan merupakan alat pendidikan langsung, dimana seorang guru diharuskan untuk memberikan suri teladan yang baik terhadap anak didiknya. Karena prilaku seorang guru menjadi sorotan bagi anak dan sedikit banyak membekas dalam pribadi mereka. Maka dari itu teladan seorang guru dalam dunia pendidikan sangatlah urgen, bagaimana ia memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya. Dalam hal ini cukuplah seorang guru mempengaruhi anak dengan perbuatan yang baik, maka dengan sendirinya anak terbiasa dengan tontonan yang baik dalam pribadi guru, maka secara otomatis anak meniru sifat-sifat terpuji tersebut.

  1. Anjuran dan Perintah

Anjuran dan perintah berbeda dengan teladan, karena dalam anjuran dan perintah anak didik hanya mendengarkan apa yang telah diucapkan oleh seorang guru, sedangkan teladan anak didik hanya melihat apa yang telah dilakukan oleh guru.

Anjuran dan perintah merupakan alat pembentuk disiplin secara positif, karena disiplin sangat perlu dalam pembentukan moral pada diri anak. Dengan membiasakan hidup disiplin, maka tidak menutup kemungkinan anak melakukan pelanggaran disiplin yang telah ditentukan.

Jadi anjuran ini merupakan sarana untuk melakukan sesuatu yang baik dan berguna, seperti meningkatkan kualitas belajar, penggunaan waktu yang efektif dan efisien dan bagaimana bersikap kepada guru, teman guru, dan sesama teman. Sedangkan perintah sifatnya lebih keras, yakni suatu kewajiban untuk melaksanakan sesuatu yang baik dan berguna. Perintah digunakan sebagai alat pendidikan untuk membentuk kesadaran dan pengertian menjalani disiplin yang telah ditetapkan, sehingga tumbuh berangsur-angsur rasa senang melakukannya tanpa suruhan dari orang lain, dan termotivitasi dari pribadinya dengan rasa penuh tanggung jawab.

  1. Latihan

Latihan sebagai proses pembiasaan pada pribadi anak, maka dari itu setiap anak dibiasakan dengan latihan-latihan positif, seperti shalat berjemaah, mengaji al-Qur’an, puasa sunat, dengan latihan-latihan tersebut maka dalam melakukan pun tidak akan merasa kaku lagi, bahkan akan menambah kesempurnaan dalam melaksanakannya, karena mengerti apa yang diucapkannya dan apa yang diperbuatnya, dan pada akhirnya latihan-latihan tersebut akan mempengaruhi sikap dan prilaku anak, yang akan menjadikan anak lebih bermoral.

  1. Kompetisi dan Hadiah

Kompetisi dan hadiah juga merupakan salah satu alat untuk membentuk kebiasaan positif. Kompetisi yang dimaksud adalah persaingan sehat yang ada hubungannya dengan pendidikan dan mengarah terhadap terbentuknya moral positif. Misalnya mengadakan lomba-lomba, baik di bidang seni, olahraga dan keagamaan serta keintektualan, setiap lomba yang diadakan tentu ada hadiahnya. Hadiah tersebut memicu anak untuk menjadi guru dari setiap lomba yang dikompetisikan dan berusaha untuk meraih hadiah tersebut, maka terjadi kompetisi yang ketat antar anak.

  1. Koreksi dan Pengawasan

Mengingat manusia tidak ada yang sempurna, maka tidak ada yang luput dari perbuatan khilaf dan salah. Demikian juga anak, tidak luput dari khilaf dan salah, ada sebagian mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran. Dengan demikian sebelum kesalahan berlanjut dan menjadi suatu kebiasaan, di sini diperlukan koreksi dan pengawasan, dengan adanya dua komponen tersebut mereka cepat menyadari kesalahan yang diperbuatnya, dan berhati-hati serta selektif dalam bertindak.

  1. Larangan dan Hukuman

Larangan itu sebagai alat pendidikan untuk menghindari anak dari suatu perbuatan buruk dan amoral, larangan ini berlawanan dengan perintah. Perintah mengandung kewajiban untuk dilaksanakan, sedangkan larangan mengandung kewajiban untuk ditinggalkan. Hukuman merupakan usaha untuk menyadarkan anak melakukan pelanggaran, dan supaya jera dan tidak melakukan lagi. Hukuman itu sendiri merupakan alternative terakhir apabila dengan segala cara apapun tidak bisa, maka hukuman boleh dilaksanakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: