IBADAH MAHDOH


IBADAH MAHDOH

Setiap manusia yang dilahirkan dan diciptakan oleh Allah SWT ke muka bumi pada intinya adalah untuk beribadah atau mengabdi kepada-Nya. Pengabdian merupakan penyerahan mutlak dan kepatuhan sepenuhnya secara lahir dan batin seorang hamba kepada sang pencipta. Semua itu dilakukan dengan kesadaran, baik sebagai orang-seorang dalam masyarakat maupun secara bersama-sama dalam hubungan tegak lurus antara manusia dengan Khalik-Nya dan hubungan garis mendatar antara manusia dengan sesama makhluk.

Dengan kata lain semua kegiatan manusia yang menyangkut masalah ibadah maupun mu’amalah merupakan bukti penyembahan kepada Allah SWT untuk mencari ridho-Nya.

Kata ibadah mengandung dua makna, dan kedua makna itu mengkristal menjadi satu makna, yaitu: puncak kepatuhan yang dibarengi dengan puncak kecintaan. Kepatuhan yang menyeluruh yang dipadukan dengan kecintaan yang menyeluruh itulah yang dinamakan dengan ibadah. Kecintaan tanpa kepatuhan dan kepatuhan tanpa kecintaan tidak mencerminkan makna ibadah. Demikian pula kepatuhan yang setengah-setengah yang disertai dengan kecintaan yang setengah pula, tidak akan mencerminkan ibadah menuntut kepatuhan dan kecintaan secara penuh.[1]

Dengan demikian dapat diketahui bahwasanya ibadah kepada Allah SWT sebagai Sang Pencipta haruslah dikerjakan dengan sepenuh hati, karena bila kita kerjakan tanpa sepenuh hati kita tidak akan mendapatkan manfaatnya secara menyeluruh.

DR. Muslim Ibrahim, MA membagi ibadah kepada dua bagian, yaitu:2

  1. Ibadah dalam arti khusus (terbatas)

Ibadah dalam arti khusus adalah peraturan-peraturan yang mengatur hubungan langsung antara hamba dengan Tuhannya, yang tata cara dan upacaranya telah diatur secara terperinci dalam Al-Qur’an dan Hadits

  1. Ibadah dalam arti luas

Ibadah dalam arti luas adalah segala amal perbuatan yang titik tolaknya ikhlas, titik tujuannya ridha Allah, dan garis amalnya shaleh. Oleh karena itu suatu perbuatan dapat bernilai atau tidak, tergantung pada niatnya.

Ibadah dalam arti khusus yang tata cara dan upacaranya telah diatur secara terperinci dalam Al-Qur’an dan Hadits dikenal pula dengan sebutan ibadah mahdoh.3

Dalam Ensiklopedi Hukum Islam dijelaskan bahwa ibadah mahdoh adalah ibadah yang mengandung hubungan dengan Allah SWT semata-mata, yakni hubungan vertikal. Ibadah ini hanya terbatas pada ibadah-ibadah khusus. Adapun ciri-ciri ibadah mahdoh adalah semua ketentuan dan aturan pelaksanaannya  telah ditetapkan secara rinci melalui penjelasan-penjelasan Al-Qur’an dan Hadits. Ibadah mahdoh dilakukan semata-mata bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Contoh daripada ibadah mahdoh adalah shalat, puasa dan haji.4


[1] DR. Yusuf Al Qardhawi, Tauhidullah dan Fenomena Kemusyrikan,  (Surabaya : Pustaka Progressif, 1996), Cet ke-3, h. 38
2 DR. Muslim Ibrahim, MA., Pendidikan Agama Islam Mahasiswa, (Jakarta : Erlangga, 1990), h. 60
3 E. Hassan Shaleh, Studi Islam di Perguruan Tinggi, (Jakarta : ISTN, 2000), Cet. Ke-2, h 159
4 Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta : PT. Ikhtisar Baru Van Hoeve, 1997).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: